Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Keluarga - Persembahan untuk Kelompok Kecilku untuk Bertumbuh. (Buat Bapak, Mamak, dan Adek)

K E L U A R G A [Prolog] Tanah Liat membutuhkan proses yang sangat lama untuk menempanya. Dibanting, dibakar, ditekan, dihempaskan. Namun, semua proses itu membentuknya menjadi sebuah Bejana yang indah, yang memiliki manfaat bagi orang lain, yang memiliki estetika untuk menyejukkan jiwa. Demikianlah hidup ini, seperti Bejana. Ada pahit manisnya. Ada senang sedihnya. Terkadang teksturnya keras, terkadang terlalu rapuh. Macam - macam memang. Wong Indonesia, katanya beragam - ragam menuju Ika. Bejana ju ga begitu, banyak materialnya dan banyak langkah – langkah pembuatannya. Kita adalah bejana - bejana yang ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, yang ditempa susah payah oleh mereka yang mengasihi dengan tulus hati. Ya benar. Mereka adalah Orang Tua. [Ayah] Air mengalir dengan perlahan. Bergerak dari hulu untuk merangkak menuju hilir. Air melambangkan ketenangan. Pergerakannya adalah manifestasi kesabaran. Ketika air berubah menjadi ombak dan arus deras, air sedang mengajarkan b...

Late Post - MERDEKA

MERDEKA Merah dan putih Perbedaan yang kontras gradiasi warna Perlambangan semangat dan nilai keluhuran Dirajut dengan pengorbanan dan kasih sayang Semilir yang bertiup dari selatan Terik yang menyengat namun membakar tekad Hentakkan kaki dan teriakan pemecah barisan Menyatu menjadi harmoni di bulan kedelapan Berlari, menari, dan bergerak seirama melodi petikan merdu dari kecapi dan siulan nyaring seruling bambu melafalkan kebebasan dan mengentaskan keterikatan hiruk pikuk nostalgia negeri menggambarkan kebahagiaan   sejati dibawah bendera revolusi menjadi suci dan menjadi berani beta juga anak kolong khatulistiwa yang mendambakan secuil roti dan segelas susu berjuang hidup mati di tanah surga yang telah merdeka 75 tahun yang lalu memori akan tetap tersimpan dengan rapi dalam benak setiap generasi muda tinggal dan bersemayam dalam hati menunggu diwariskan kepada benih muda salam hangat   dari penghuni Bumi Indones...

Dean's Diary "Laura gagal Cinta"

Dean's Diary "Laura gagal Cinta" 28 Agustus 2022 Selamat malam. Selamat menikmati Sabtu penuh cerita. Tiang abu – abu yang menggantung pilu di kaki rembulan purnama ketiga. Sekali lagi pekan yang dilewati seorang diri. Oh bukan. Ini bukan kisah cahaya merah jambu seperti biasanya. Seorang gadis jelita berkacamata yang menyebut dirinya sobat Dean yang memulai kisah ini. Sebut saja namanya Laura. Atau bukan ? kau bisa menyebutnya siapa saja. Aku menyukai panggilan gadis berkacamata. Karena itu adalah pesonanya yang utama, yang menjerat lusinan penjantan – penjantan pencari pasangan dan jagoan – jagoan kelebihan percaya diri. Kisah ini bermula ketika Laura jatuh hati kepada seorang Pujangga bermata empat. Aku tidak bisa menyebut nama, Laura kata itu privasi. Yeah, baiklah, aku menurut saja. Untung sayang. Pujangga ini menyenangi musik. Kharisma yang kuat dan selera humor yang baik menambah nilainya sebagai seorang lelaki. Namun, sang pujangga tidak melirik ...

RUMAH BIRU

RUMAH BIRU Rumah Biru... Tempat untuk mereka yang mau bermimpi Tempat untuk mereka yang setia tepati janji Tempat untuk mereka yang percaya   akan   kata hati Tempat untuk mereka yang mau belajar dan mengabdi Tempat untuk mereka yang mau berkorban dan mawas diri Tempat untuk mereka yang menjunjung tinggi ke - tiga panji Tempat untuk mereka yang ingin   BerVisi dan melakukan Misi Tempat untuk mereka yang mau bersatu dan meneguhkan hati Tempat untuk mereka yang mau memelihara semesta serta bumi Tempat untuk mereka yang mau memulai dari ragi agar menjadi roti Rumah Biru... Tempat yang tidak dapat kau beli namun dapat kau Cari Tempat Kau, Aku, dan Mereka. Tempat Kita. Desy Melati Lubis Indonesia 03.11.2017 00.11 A.m

Puing - Puing

Gambar
Bait   yang di ukir si atas selembar harapan Melantunkan dongeng dikala bumi basah oleh hujan Rintihan keputusasaan terdengar dari kejauhan Menambah kesan pilu di remangnya sinar rembulan Deretan kata yang dimateraikan menjadi sebuah janji Komitmen yang terucap bak ikrar sumpah sejati Namun Keraguan telah dinista oleh kepercayaan diri Menodai kemurnian dari ketulusan hati Janji tinggal harapan yang menjadi semu Semangat diawal yang sungguh menggebu Hanya tersisa bongkahan kecil yang penuh dengan debu Nyanyian kekecewaan dilantunkan dari utara ke selatan Matahari yang membawa impian terbit sangat lamban Pesonanya tak lagi seindah bulan kedelapan Semua hanya tinggal seoongok kenangan Untuk di ingat sejenak kemudian dilupakan Kemanakan kau pergi ? Sanggupkah kau melihat bibit – bibit kecil ini tumbuh? Tanpa air kehidupan dan perawatan ? Kau ikuti kupu – kupu indah yang terbang ke barat Menelikung jalan yang telah ditelesuri dah...

PETRICHOR

P E T R I C H O R Mendung menggantung   di langit berawan Membawa sejuk pada sanubari dan badan Menghembuskan hawa yang membawa kesegaran Pertanda akan datangnya periode penghujan Pepohonan kian bersenandung gembira Burung gereja berkicau penuh sukacita Hewan - hewan yang berlarian dengan   ceria Menyambut antusias musim kedua Secangkir kopi terhidang menemani sore dimalam Minggu Ketika tetesan – tetesan kecil berjatuhan membasahi kalbu Rasa pahit dan manis bercampur menjadi satu Memanjakan hati dan mengusir pilu Sepekan sudah kekeringan melanda tanah pertiwi Mencipta resah dan menyulam gelisah di hati Harap   cemas kegagalan akan panen padi Takut akan mergancam kesejahteraan negeri Namun ketakutan telah terlupakan oleh euforia Kebahagiaan sebagai jawaban doa dari Pencipta Hujan berkat telah dicurahkan dengan semata – mata Demi mereka yang bersusah payah berusaha dan bekerja Gumpalan kapas itu perlahan – lahan t...

LAKSAMANA MERAH

LAKSAMANA MERAH Kau, wahai pucuk dari pohon yang amat menjulang Tinggi dan gagah kau terlihat dari ufuk selatan Indah dan elok daunmu ketika tertiup dan bergoyang Sarat akan kesempurnaan dan kebebasan Kau , wahai Ratu dari Kerajaan Abu - Abu Zirah emas dan permata mahal membungkus tubuhmu Sungguh bersinar siluetmu menggoncang kalbu Menundukkan dan menyihir entitas di sekitarmu Kau, wahai penguasa samudera biru Gelombang ombakmu tak kuasa berseru – seru Seakan mengatakan ingin berhenti menggulung Mereda sejenak dan mencoba merenung Kau, wahai pempimpin tentara – tentara langit Perhatikanlah kaki dan tanganmu yang mulai sakit Kehabisan daya dengan banyak torehan luka Menyiksa hati dan juga seluruh raga Kau, wahai laksamana yang kenamaan Duka dan lara pasti selalu kau telan Ibarat empedu rasanya sungguh tak tertahan Sadarlah, Pencipta sedang memberi cobaan Lakukanlah intropeksi dari banyak celaan Kau, wahai Laksamana Merah yang...

LANGIT ABU – ABU

LANGIT ABU – ABU Teruntuk Sahabat Terkasih, Yang nun jauh disana. Terimakasih untuk kenangan   manis yang terukir di permukaan   hati yang begitu suci. Terimakasih untuk masa yang indah yang boleh terekam menjadi kepingan nostalgia. Terimakasih untuk semangat dan   tawa yang kita rajut bersama. Namun, dahulu seakan   dongeng pengantar tidur belaka. Diingat hanya untuk selintas menjadi memori samar. Dibawah terang rembulan aku kembali teringat kembali akan bayangmu. Masih ingatkah kau kepadaku ? Tidak mungkin kau melupakanku secepat itu, bukan ? Masih kuingat ketika kau   meratap pilu dan bersedih hati. Daya pikat yang sungguh kuingat melekat di tubuhmu membuatku tersentuh. Kulihat dengan jelas gemetar tubuhmu saat itu. Seketika aku jatuh hati ingin mendekapmu. Memerangkapmu dan menenangkanmu. Menunjukkan kepadamu harfiah kehidupan dan benang – benang takdir yang melingkupi Alam Raya. Kuhibur dan kubawa kau ke lembah sejuta impian. Masih jelas...

PEREMPUAN : SEMANGAT KEUGAHARIAN DALAM MERANGKAI PUSPA PRIBUMI

PEREMPUAN : SEMANGAT KEUGAHARIAN DALAM MERANGKAI PUSPA PRIBUMI PENDAHULUAN Perempuan identik dengan keindahan, sikap yang lemah lembut, bersahaja, dan rapuh. Perempuan menjadi salah satu oknum penting dalam perjalanan kesejarahan bangsa Indonesia. Sejak lampau, peran perempuan turut serta membangun Indonesia mejadi satu tubuh yang merdeka hingga pada saat sekarang ini. Namun, dalam perjalanannya tidak selalu pembicaran mengenai peran perempuan berjalan mulus. Budaya yang berkembang di Indonesia, seringkali membatasi ruang gerak perempuan. Kerena, perempuan kerap kali masih dianggap sebagai ‘pelengkap’ atau hanya sebagai ‘orang kedua’ dalam rumah tangga ataupun dalam masyarakat. Perjalanan kemerdekakan perempuan dikalangan masyarakat juga dapat ditilik dari buku karangan R.A. Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Sejarah juga menyatakan bagaimana R.A. Kartini menuliskan pokok – pokok pikirannya kedalam surat – surat tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan untuk kema...