POWER OF THE DREAM
POWER OF
THE DREAM
.
.
.
Siapa yang tau mimpi itu tabu, tidak ada kan? Hanya
dirimu dan usahamu lah yang tau mimpi itu mustahil atau tidak.
Siapa yang tahu mimpi itu hanya imajinasi, tidak ada
juga kan? Hanya kebenaran yang dialui dengan usahalah yang dapat
membuktikannya.
.
.
.
Air mengalir deras di sepanjang hulu
sungai menghanyutkan dedaunan kering yang jatuh di atas permukaannya yang
mengalir. Desiran embun pagi pun menyambut kedatangan segerombolan gadis yang tengah menyisiri tepian sungai
dengan senandung lagu bahagia. Kicauan burung-burung gereja pun ikut mewarnai
pagi mereka yang tampak berseri. Semangat mereka tampaknya tidak berkurang
meskipun jarak perjalanan mereka yang lumayan jauh dan banyaknya jalanan curam
dan berlubang yang mungkin saja akan menyambut mereka jikalau mereka tidak
berhati-hati.
“Ayo! Kita nanti terlambat!” Seru Aretha,
gadis yang berjalan paling depan pada teman-temannya. Keempat temannya yang
lain pun mempercepat langkah mereka. Derap langkah mereka terhenti
disebuah gubuk tua yang tidak terawat dan sangat kumuh. Salah satu dari mereka
membuka pintu gubuk tua itu dan menyerukan nama seseorang,
“Nenek,
kami datang membawa bekal dan pakaian untuk nenek” teriakan Amelia,
salah satu dari gadis itu memenuhi gubuk kecil yang dipenuhi tumpukan kayu
bakar yang berantakan dengan berbagai sampah kecil disekelilingnya. Mereka
menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berkeliling mencari penghuni gubuk tua
nan kumuh itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke sungai yang telah
mereka lewati tadi untuk memastikan bahwa orang yang mereka cari memang berada
disana.
“Nenek!! Ternyata nenek disini, kami
mencari nenek sedari tadi, ini kami bawakan nenek makanan dan pakaian” ucap gadis
bernama Aleena pada nenek tersebut. Orang tua itu hanya membalas
dengan senyumannya yang rapuh dan tulus, kemudian berjalan mendekati gadis-gadis itu.
Ketulusan nenek itu dapat terpancar dari kesabaranya mendidik dan mengajari gadis-gadis
itu tanpa mengeluh. Setiap harinya, sepulang sekolah, gadis-gadis itu memang
selalu datang kerumah nenek itu untuk belajar dan sekaligus membantu nenek itu
bekerja di kebun serta membantunya juga menangkap ikan. Seperti halnya yang
mereka lakukan sekarang ini.
”Kalian harus berusaha dulu, baru kalian
boleh protes, jadilah anak yang sabar.”
Ucap nenek itu menyemangati anak-anak itu,
“Baik! Kami mengerti nek. Kami tidak
mengeluh lagi.” Jawab mereka dengan patuh pada sang nenek. Pertemuan mereka
dengan nenek tua yang tinggal digubuk reyot itu awalnya adalah ketika kelima gadis
itu tengah menjalani kegiatan perkemahan dihutan di dekat sekolah mereka.
Mereka berlima tersesat hingga keluar dari hutan dan bertemu dengan nenek baik
hati yang bersedia memberikan kelima gadis itu makanan dan minuman serta
mengantarkan mereka kembali ke perkemahan. Sejak saat itu mereka berlima selalu
datang menemui nenek itu untuk memberikan bekal ataupun sekedar melihat keadaan
nenek itu. Kini, gadis-gadis itu telah
tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan semua itu berkat bimbingan nenek
yang selalu mengajari mereka tentang arti dari sebuah mimpi yang bisa membawa mereka kepada sebuah
perubahan baru. Nenek sang pemimpi itu pun sering bercerita tentang
pengalamannya dalam berjuang mewujudkan mimpinya yang mungkin tidak akan akan
pernah tercapai secara nyata, tetapi dia selalu percaya bahwa mimpinya yang
sejati sebenarnya telah terwujud. Mimpi sang nenek memang bukan mimpi yang bisa
diwujudkan dengan mudah. Nenek tua rapuh itu selalu mengatakan bahwa
mimpinya adalah untuk membuat orang lain pun bermimpi. Aneh, tetapi itu sungguh
mimpi yang mulia dan tidak pernah ada yang berfikir untuk mempunyai mimpi seperti
itu.
“Kegigihan dan kemauan keraslah yang
mengantarkan mimpi kita pada kenyataan” kata-kata yang di katakan sang nenek
ini selalu memotivasi gadis-gadis itu dalam pembelajaran mereka sekaligus dalam
mencapai keinginan dan harapan mereka.
Malam ini tidak seperti malam-malam
biasanya. Malam ini sejarah kembali terukir di atas batu nisan kumuh yang
dilumuri air mata dari banyak orang yang menangisi kepergian penghuni makam
itu. Wajah-wajah sedih terpancar dari setiap orang yang menatap nanar nisan
mati yang berdiri tanpa suara di depan mereka. Terlalu lama mereka menyadari akan nenek
tua renta yang tak bernyawa yang kini telah ditimbun butiran tanah yang lembab
karena diresapi air hujan. Nenek tua itu telah lama menghabiskan hidupnya untuk
mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu setia mendidik
orang-orang yang miskin ilmu dan pengetahuan menjadi orang-orang terpelajar dan
kaya akan ilmu pengetahuan. Kini, waktu telah habis dan saatnya ia kembali pada
Penciptanya. Banyak yang menyadari siapa dia sebenarnya, tetapi hanya sedikit
yang mengakui serta menghormatinya sebagai pendiri sekolah di kaki bukit biru
kecil tersebut. Setelah masanya habis, tidak ada yang pernah peduli pada
pahlawan yang tak kenal lelah seperti dirinya. Hanya kelima gadis itulah
yang mau untuk bergaul dengan nenek tua renta sepertinya, dan juga hanya
merekalah yang mengerti mimpi dan harapannya selama ini. Tetapi, ini sudah
terlambat untuk menyesali kepergian seorang nenek perkasa
sepertinya. Semuanya hanya bisa jadi sejarah yang berharga untuk dikenang oleh
kelima gadis malang yang kehilangan guru terbaiknya. Hari demi hari mereka
jalani dengan kesepian dan juga kerinduan pada sosok hangat yang selalu menjaga
dan mendidik mereka tanpa kenal lelah maupun gerah.
Namun, semua itu telah berlalu, mereka
hanya bisa mengenang sang nenek pemimpi yang selalu menyemangati dan menghibur
mereka.
“Nak, kita memang orang biasa yang tidak
mengerti apa-apa, tetapi ingat kita juga harus berjuang dan bangkit dari
keterpurukan kita” kata-kata itu teringat oleh mereka dan akhirnya mereka pun
menyadari kata-kata nenek memang benar dan mereka harus tetap kuat dan tegar
biar apapun yang mereka alami dan sepahit apapun masalah yang mereka
hadapi. Kelima gadis itu pun memegang dan menjaga kata-kata itu dalam hati
mereka dan mencoba untuk tidak menangisi kepergian sang nenek, melainkan
menjadikannya kekuatan bagi mereka untuk tetap kuat dan menjadi yang terbaik
kedepannya.
Hari ini, hari yang sangat menentukan
bagi kelima gadis itu. Berhasil atau tidak nya mereka bergantung pada hari ini,
dan semua perjuangan mereka untuk belajar siang malam pun akan terbayar pada
hari ini. Dapat terlihat begitu banyak siswa yang tengah berkumpul menanti
hasil keringat mereka yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Debaran jangtung
mereka terasa sangat cepat dan keringat yang bercucuran dipelupuk mata mereka
semakin menambah ketegangan saat ini. kepala sekolah dan para
majelis guru terlihat santai dan seperti tidak peduli dengan nasib para
siswanya, entah itu disengaja atau pun tidak.
Kepala sekolah berkali-kali mengusap
keringat ditengkuknya dengan raut wajah
yang sulit diartikan dan hal ini membuat para siswa semakin tegang. Perlahan
tapi pasti, kertas putih itu dibacanya dengan perlahan didepan ribuan telinga
yang bersiap mendengar apapun yang diucapkannya,
“Kalian semua…LULUS!” Hanya tiga kata,
mampu membuat semua siswa meloncat girang dan saling memeluk satu sama lain.
Hanya tiga kata, tapi mengukirkan perjuangan mereka yang telah menanti selama
tiga tahun lamanya hanya untuk saat-saat seperti ini. Seperti halnya kelima
siswi yang kini tengah mengukirkan senyum kemenangan dan pancaran mata
ketulusan seraya menatap bangga pada sebuah makam yang terletak ditepi sekolah
mereka. Mereka yakin dan percaya bahwa sosok yang mereka rindukan kini tengah
mengacungkan jempol kebanggaannya dengan senyuman khasnya yang memancarkan
ketulusan pada mereka berlima. Mimpi itu memang indah seperti ucapannya, dan mimpi itu akan lebih indah lagi jika berbagi
dengan orang lain yang tidak memiliki mimpi tersebut.
“Kemana kalian akan melanjutkan?” Tanya Apia
pada keempat sahabatnya tersebut. Mendengar pertanyaan tersebut mereka berlima
pun saling berpandangan menunggu jawaban satu sama lainnya.
Kini roda waktu telah berputar dan kabut
masa depan telah datang menyelimuti dunia. Rerumputan hijau dan padang yang luas memanjang telah
berganti dengan gedung pencakar langit nan megah dan mewah. Keindahan alam yang
dahulunya menyegarkan dan menenangkan kini telah menjadi ladang industri dan
perkotaan. Kelima gadis yang dahulunya bermain ceria
menyisiri sungai-sungai dan ladang kini telah bertransformasi menjadi wanita
dewasa yang telah berhasil mewujudkan mimpi
serata harapan mereka. Seorang gadis berjalan dibawah taburan bintang seraya
membenamkan dirinya pada alunan musik yang kini tengah didengarnya. Derap
langkah gadis itu terhenti ketika ia berpapaan dengan seseorang di sebuah
jalanan kecil.
“Apakah kakak ikut terbang ke tempat itu?”
Tanya seorang gadis belia yang kini berdiri berhadapan dengan gadis itu,
“Tentu, mimpi kakak telah terwujud dan
sekarang kakak akan berbagi dengan orang lain.” Ucap gadis itu dengan bijaksana
pada gadis kecil itu.
“Apakah akan lama?” Tanya gadis itu
kembali pada gadis yang tengah mendengar musik tersebut.
“Dengar ya, kakak pasti akan pulang dan
menemanimu bersama ibu dan ayah, tetapi setelah misi kakak berhasil. Oke?” gadis
itu mengelus lembut rambut adik kesayangannya itu dengan penuh kasih,
”Kak Aleena janji?” Gadis kecil itu
melingkarkan kelingking mungilnya pada jari kakak nya tersebut. Kedua kakak
beradik itu pun masuk kedalam sebuah rumah sederhana yang terawat dengan baik.
Sambutan yang kecil memang, tetapi cukup meriah bagi wanita yang tengah tersenyum manis pada seluruh orang yang berada
didepannya. Kakinya kembali melangkah menuju arah yang diinginkannya dengan
perlahan tapi pasti. Langkah kakinya pun terhenti didepan televisi yang tengah
menyala dengan suara yang lumayan keras,
“…Menteri Pendidikan , Juliana Apia , kini
tengah menerapkan system pendidikan baru yang disebut dengan pendidikan
berkarakter dan sederhana. Kebijakan ini mendapat banyak kontra sebelumnya,
tetapi setelah pidato Apia yang berjudul power of dream diusung
ke publik, banyak mahasiswa dan pelajar yang mendukung kebijakan ini, ….” Gadis
itu pun tertegun, nama dan judul pidato itu seperti tidak asing ditelinga gadis
tersebut.
“Bukankah itu teman masa kecil mu Aleena?” Tanya seorang Ibu pada anaknya yang
kini terdiam. Hening, tidak ada jawaban dari Aleena.
“Oh iya, kemarin ayah pergi kerumah kakek
dan bertemu dengan orang tua Amelia temanmu itu, ternyata dia sudah jadi dokter
yang sukses sekarang, ayah dengar dia juga bekerja di organisasi WHO yang terkenal
itu,” ucap seorang ayah panjang lebar
sembari menyeruput tehnya. Wanita itu kembali tersenyum dan bergumam kecil pada
dirinya sendiri,
“Ya, mereka telah berhasil
memujudkannya, mimpi itu.” Bisik gadis itu dan kembali terhenyak dan menatap
butiran bintang yang bertaburan dilangit malam. Kini, pikiran gadis itu
berkecamuk mengingat kembali kejadian-kejadian yang dialaminya dahulu ketika
masih kanak-kanak. Kini, semua nya memang telah berubah dan menjadi lebih baru
dari yang dahulu, seperti kata-kata orang itu, nenek tua renta yang berhasil
mendidiknya dan teman-temannya hingga
mampu mengukirkan mimpi mereka dengan pasti dan nyata seperti sekarang.
.
.
.
Butiran salju kini turun dikota Newyork,
salah salah satu kota terkenal dan terbesar didunia. Dinginnya salju tak
mengurangi semangat seorang gadis yang kini tengah berjalan diatas tumpukan
salju yang menutupi hampir separuh kota Newyork sekarang ini. Bunyi langkah
kakinya teredam oleh hawa dingin salju yang menghujani tubuh mungilnya itu.
“Alika, your friend tell me
to give you this letter!” seru seorang pria berperawakan tegap dan tinggi pada wanita
itu dengan menggunakan bahasa Iinternasional, bahasa
Inggris.
”Okay, thankyou Jonathan.” ucap gadis
itu sembari mengambil surat yang diberikan pria itu kepadanya. Cukup lama wanita
itu membolak-balik amplop surat yang didapatnya itu sembari memainkan ponsel
ditangannya. Dengan raut wajah yang ragu, dibukanya amplop surat itu, kemudian
membacanya. Hanya satu menit, gadis itu telah selesai membaca isi dari selembar
kertas bewarna silver digenggamannya tersebut. Tersenyum, itulah hal pertama
yang dilakukannya kini,
“Oh, meteorologi klimatologi? Aretha kau
mencurangiku! aku baru saja menamatkan pendidikan ku di oxford, kau sudah jadi
ketua BMKG” Gumam wanita itu dengan
kesal tetapi tetap mengukirkan senyuman kebahagiaan diwajahnya. Wanita itu
kembali melanjutkan langkahnya dengan pasti dan juga dengan ukiran senyuman khasnya menuju ke sebuah sekolah besar dan
megah untuk melanjutkan mimpi dari sosok yang sangat dikenangnya, sang nenek.
Mimpi yang mulia, yaitu membuat orang lain bermimpi karena mimpinya. Gadis
dengan jas biru elegan itu berjalan masuk ke sekolah besar dihadapannya dan
tersenyum pada setiap murid yang menyapanya.
“Morning miss Alika! How are you?” sapa
salah seorang muridnya dengan bersemangat pada wanita dihadapannya. Wanita itu
tersenyum ramah pada gadis kecil yang menyapanya sembari memberikan pancaran
mata ketulusan sebagai seorang pendidik kebanggaan para muridnya.
Angin kembali menari dengan indahnya
menerbangkan mimpi-mimpi indah dari banyak anak yang berani untuk bermimpi ke
arah pilar-pilar keberhasilan yang telah bersiap untuk memberikan cahaya pengharapan
bagi mereka.
.
.
.
Malam ini terulang kembali, malam dimana sosok
pahlawan tanpa tanda jasa yang amat penting bagi banyak orang telah pergi.
Malam dimana kelima gadis malang meratapi nasibnya jika tanpa
orang tua renta itu. Tetapi kali ini berbeda, karena mereka bukan
berkumpul karena suatu hari menyedihkan, melainkan mereka berkumpul di makam
kosong yang tak bernyawa ini untuk mengingat jasa seorang nenek tua renta yang
telah berhasil membentuk mereka menjadi bintang yang sesungguhnya dan dapat
berguna bagi banyak orang. Pertemuan singkat ini diprakarsai oleh seorang
wanita muda yang telah berhasil membuktikan bahwa orang desa dan kuno
sepertinya dapat diakui dunia menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa
pengganti sang nenek pemimpi. Tetapi dia bukan hanya sebagai pahlawan tetapi
juga sebagai pendidik para pelajar yang miskin harapan dan mimpi menjadi kaya
akan pengharapan mimpi masa depan mereka. Dia adalah Aleena, seorang Psikolog
muda berbakat yang dipanggil keluar dari negrinya untuk mengajarkan anak-anak
yang tidak tahu akan apa-apa menjadi anak yang sukses dan berkemauan
keras.
“Mimpi adalah perjuangan, perjuangan
adalah hidup, hidup adalah petualangan,
petualangan adalah sejarah, dan sejarah adalah masa depan” Semboyan itu
lah yang selalu diajarkan Aleena pada setiap orang yang membutuhkan
perngharapan baru di hidup mereka. Mereka berlima berdiri didepan makam itu dengan bersimbah air mata
kebahagiaan dan senyuman kebanggaan yang terukir di wajah mereka. Mereka
kembali menerawang setiap peristiwa yang mereka alami hingga mereka tetap dapat
berdiri sampai sejauh ini. Mereka pun mengakui bahwa kata-kata sang nenek yang
selama ini mengajari mereka memang terbukti benar. Dan semua ucapan nenek itu
mendorong mereka hingga sampai pada tingkat ini tanpa terjatuh lagi ke lubang
dalam yang pernah mereka
rasakan.
Pagi itu tanpak hening dan sunyi, alam
seakan tahu bahwa hari ini adalah peringatan kematian sosok baik hati yang
berhati mulia itu.
“Jika engkau ingin bermimpi maka
bersungguh-sungguh lah, dan jika engkau bersungguh-sungguh maka bermimpilah”
gumaman dari Aleena memecah keheningan dipagi itu.
“Jangan khawatir akan kegagalan, karena engkau tidak akan pernah
gagal jika kau tidak berhenti berusaha” sambung Amelia kemudian meskipun dengan
bersimbah air mata,
“Nenek juga bilang, agar kita tersenyum
jika ada yang mengina kita, dan juga jika ada yang membenci kita” ucap Alika
menimpali kata-kata teman-temannya.
“Tetapi ingat, semakin dekat kita dengan
mimpi maka semakin banyaklah mimpi yang kita bagi untuk orang lain” seru Aretha
sembari tersenyum bahagia dengan mata terpejam mengenang sang nenek pemimpi.
“Tidak perlu jika mimpi kita
membuat banyak orang yang memuji kita, tetapi yang terpenting agar
mimpi kita membuat banyak hati yang terbuka dan berani untuk
berusaha” Apia mengakhiri nostalgia mereka dengan senyuman dan hentakkan
kebahagiaan. Mimpi memang tidak masuk akal, tetapi yang masuk akal itu belum
tentu membuka akal pikiran manusia.
Secara tidak langung mereka berlima
telah mewujudkan mimpi sang nenek yang telah banyak mengajari dan membimbing
mereka berlima sehingga menjadi seperti sekarang ini. Perputaran waktu akan
terus berlanjut hingga kelima wanita ini akan mewariskan ajaran sang nenek pada putra-putri
mereka berikutnya, di kehidupan yang akan datang.
Dream come trues
POWER OF
THE DREAM
.
.
.
Siapa yang tau mimpi itu tabu, tidak ada kan? Hanya
dirimu dan usahamu lah yang tau mimpi itu mustahil atau tidak.
Siapa yang tahu mimpi itu hanya imajinasi, tidak ada
juga kan? Hanya kebenaran yang dialui dengan usahalah yang dapat
membuktikannya.
.
.
.
Air mengalir deras di sepanjang hulu
sungai menghanyutkan dedaunan kering yang jatuh di atas permukaannya yang
mengalir. Desiran embun pagi pun menyambut kedatangan segerombolan gadis yang tengah menyisiri tepian sungai
dengan senandung lagu bahagia. Kicauan burung-burung gereja pun ikut mewarnai
pagi mereka yang tampak berseri. Semangat mereka tampaknya tidak berkurang
meskipun jarak perjalanan mereka yang lumayan jauh dan banyaknya jalanan curam
dan berlubang yang mungkin saja akan menyambut mereka jikalau mereka tidak
berhati-hati.
“Ayo! Kita nanti terlambat!” Seru Aretha,
gadis yang berjalan paling depan pada teman-temannya. Keempat temannya yang
lain pun mempercepat langkah mereka. Derap langkah mereka terhenti
disebuah gubuk tua yang tidak terawat dan sangat kumuh. Salah satu dari mereka
membuka pintu gubuk tua itu dan menyerukan nama seseorang,
“Nenek,
kami datang membawa bekal dan pakaian untuk nenek” teriakan Amelia,
salah satu dari gadis itu memenuhi gubuk kecil yang dipenuhi tumpukan kayu
bakar yang berantakan dengan berbagai sampah kecil disekelilingnya. Mereka
menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berkeliling mencari penghuni gubuk tua
nan kumuh itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke sungai yang telah
mereka lewati tadi untuk memastikan bahwa orang yang mereka cari memang berada
disana.
“Nenek!! Ternyata nenek disini, kami
mencari nenek sedari tadi, ini kami bawakan nenek makanan dan pakaian” ucap gadis
bernama Aleena pada nenek tersebut. Orang tua itu hanya membalas
dengan senyumannya yang rapuh dan tulus, kemudian berjalan mendekati gadis-gadis itu.
Ketulusan nenek itu dapat terpancar dari kesabaranya mendidik dan mengajari gadis-gadis
itu tanpa mengeluh. Setiap harinya, sepulang sekolah, gadis-gadis itu memang
selalu datang kerumah nenek itu untuk belajar dan sekaligus membantu nenek itu
bekerja di kebun serta membantunya juga menangkap ikan. Seperti halnya yang
mereka lakukan sekarang ini.
”Kalian harus berusaha dulu, baru kalian
boleh protes, jadilah anak yang sabar.”
Ucap nenek itu menyemangati anak-anak itu,
“Baik! Kami mengerti nek. Kami tidak
mengeluh lagi.” Jawab mereka dengan patuh pada sang nenek. Pertemuan mereka
dengan nenek tua yang tinggal digubuk reyot itu awalnya adalah ketika kelima gadis
itu tengah menjalani kegiatan perkemahan dihutan di dekat sekolah mereka.
Mereka berlima tersesat hingga keluar dari hutan dan bertemu dengan nenek baik
hati yang bersedia memberikan kelima gadis itu makanan dan minuman serta
mengantarkan mereka kembali ke perkemahan. Sejak saat itu mereka berlima selalu
datang menemui nenek itu untuk memberikan bekal ataupun sekedar melihat keadaan
nenek itu. Kini, gadis-gadis itu telah
tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan semua itu berkat bimbingan nenek
yang selalu mengajari mereka tentang arti dari sebuah mimpi yang bisa membawa mereka kepada sebuah
perubahan baru. Nenek sang pemimpi itu pun sering bercerita tentang
pengalamannya dalam berjuang mewujudkan mimpinya yang mungkin tidak akan akan
pernah tercapai secara nyata, tetapi dia selalu percaya bahwa mimpinya yang
sejati sebenarnya telah terwujud. Mimpi sang nenek memang bukan mimpi yang bisa
diwujudkan dengan mudah. Nenek tua rapuh itu selalu mengatakan bahwa
mimpinya adalah untuk membuat orang lain pun bermimpi. Aneh, tetapi itu sungguh
mimpi yang mulia dan tidak pernah ada yang berfikir untuk mempunyai mimpi seperti
itu.
“Kegigihan dan kemauan keraslah yang
mengantarkan mimpi kita pada kenyataan” kata-kata yang di katakan sang nenek
ini selalu memotivasi gadis-gadis itu dalam pembelajaran mereka sekaligus dalam
mencapai keinginan dan harapan mereka.
Malam ini tidak seperti malam-malam
biasanya. Malam ini sejarah kembali terukir di atas batu nisan kumuh yang
dilumuri air mata dari banyak orang yang menangisi kepergian penghuni makam
itu. Wajah-wajah sedih terpancar dari setiap orang yang menatap nanar nisan
mati yang berdiri tanpa suara di depan mereka. Terlalu lama mereka menyadari akan nenek
tua renta yang tak bernyawa yang kini telah ditimbun butiran tanah yang lembab
karena diresapi air hujan. Nenek tua itu telah lama menghabiskan hidupnya untuk
mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu setia mendidik
orang-orang yang miskin ilmu dan pengetahuan menjadi orang-orang terpelajar dan
kaya akan ilmu pengetahuan. Kini, waktu telah habis dan saatnya ia kembali pada
Penciptanya. Banyak yang menyadari siapa dia sebenarnya, tetapi hanya sedikit
yang mengakui serta menghormatinya sebagai pendiri sekolah di kaki bukit biru
kecil tersebut. Setelah masanya habis, tidak ada yang pernah peduli pada
pahlawan yang tak kenal lelah seperti dirinya. Hanya kelima gadis itulah
yang mau untuk bergaul dengan nenek tua renta sepertinya, dan juga hanya
merekalah yang mengerti mimpi dan harapannya selama ini. Tetapi, ini sudah
terlambat untuk menyesali kepergian seorang nenek perkasa
sepertinya. Semuanya hanya bisa jadi sejarah yang berharga untuk dikenang oleh
kelima gadis malang yang kehilangan guru terbaiknya. Hari demi hari mereka
jalani dengan kesepian dan juga kerinduan pada sosok hangat yang selalu menjaga
dan mendidik mereka tanpa kenal lelah maupun gerah.
Namun, semua itu telah berlalu, mereka
hanya bisa mengenang sang nenek pemimpi yang selalu menyemangati dan menghibur
mereka.
“Nak, kita memang orang biasa yang tidak
mengerti apa-apa, tetapi ingat kita juga harus berjuang dan bangkit dari
keterpurukan kita” kata-kata itu teringat oleh mereka dan akhirnya mereka pun
menyadari kata-kata nenek memang benar dan mereka harus tetap kuat dan tegar
biar apapun yang mereka alami dan sepahit apapun masalah yang mereka
hadapi. Kelima gadis itu pun memegang dan menjaga kata-kata itu dalam hati
mereka dan mencoba untuk tidak menangisi kepergian sang nenek, melainkan
menjadikannya kekuatan bagi mereka untuk tetap kuat dan menjadi yang terbaik
kedepannya.
Hari ini, hari yang sangat menentukan
bagi kelima gadis itu. Berhasil atau tidak nya mereka bergantung pada hari ini,
dan semua perjuangan mereka untuk belajar siang malam pun akan terbayar pada
hari ini. Dapat terlihat begitu banyak siswa yang tengah berkumpul menanti
hasil keringat mereka yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Debaran jangtung
mereka terasa sangat cepat dan keringat yang bercucuran dipelupuk mata mereka
semakin menambah ketegangan saat ini. kepala sekolah dan para
majelis guru terlihat santai dan seperti tidak peduli dengan nasib para
siswanya, entah itu disengaja atau pun tidak.
Kepala sekolah berkali-kali mengusap
keringat ditengkuknya dengan raut wajah
yang sulit diartikan dan hal ini membuat para siswa semakin tegang. Perlahan
tapi pasti, kertas putih itu dibacanya dengan perlahan didepan ribuan telinga
yang bersiap mendengar apapun yang diucapkannya,
“Kalian semua…LULUS!” Hanya tiga kata,
mampu membuat semua siswa meloncat girang dan saling memeluk satu sama lain.
Hanya tiga kata, tapi mengukirkan perjuangan mereka yang telah menanti selama
tiga tahun lamanya hanya untuk saat-saat seperti ini. Seperti halnya kelima
siswi yang kini tengah mengukirkan senyum kemenangan dan pancaran mata
ketulusan seraya menatap bangga pada sebuah makam yang terletak ditepi sekolah
mereka. Mereka yakin dan percaya bahwa sosok yang mereka rindukan kini tengah
mengacungkan jempol kebanggaannya dengan senyuman khasnya yang memancarkan
ketulusan pada mereka berlima. Mimpi itu memang indah seperti ucapannya, dan mimpi itu akan lebih indah lagi jika berbagi
dengan orang lain yang tidak memiliki mimpi tersebut.
“Kemana kalian akan melanjutkan?” Tanya Apia
pada keempat sahabatnya tersebut. Mendengar pertanyaan tersebut mereka berlima
pun saling berpandangan menunggu jawaban satu sama lainnya.
Kini roda waktu telah berputar dan kabut
masa depan telah datang menyelimuti dunia. Rerumputan hijau dan padang yang luas memanjang telah
berganti dengan gedung pencakar langit nan megah dan mewah. Keindahan alam yang
dahulunya menyegarkan dan menenangkan kini telah menjadi ladang industri dan
perkotaan. Kelima gadis yang dahulunya bermain ceria
menyisiri sungai-sungai dan ladang kini telah bertransformasi menjadi wanita
dewasa yang telah berhasil mewujudkan mimpi
serata harapan mereka. Seorang gadis berjalan dibawah taburan bintang seraya
membenamkan dirinya pada alunan musik yang kini tengah didengarnya. Derap
langkah gadis itu terhenti ketika ia berpapaan dengan seseorang di sebuah
jalanan kecil.
“Apakah kakak ikut terbang ke tempat itu?”
Tanya seorang gadis belia yang kini berdiri berhadapan dengan gadis itu,
“Tentu, mimpi kakak telah terwujud dan
sekarang kakak akan berbagi dengan orang lain.” Ucap gadis itu dengan bijaksana
pada gadis kecil itu.
“Apakah akan lama?” Tanya gadis itu
kembali pada gadis yang tengah mendengar musik tersebut.
“Dengar ya, kakak pasti akan pulang dan
menemanimu bersama ibu dan ayah, tetapi setelah misi kakak berhasil. Oke?” gadis
itu mengelus lembut rambut adik kesayangannya itu dengan penuh kasih,
”Kak Aleena janji?” Gadis kecil itu
melingkarkan kelingking mungilnya pada jari kakak nya tersebut. Kedua kakak
beradik itu pun masuk kedalam sebuah rumah sederhana yang terawat dengan baik.
Sambutan yang kecil memang, tetapi cukup meriah bagi wanita yang tengah tersenyum manis pada seluruh orang yang berada
didepannya. Kakinya kembali melangkah menuju arah yang diinginkannya dengan
perlahan tapi pasti. Langkah kakinya pun terhenti didepan televisi yang tengah
menyala dengan suara yang lumayan keras,
“…Menteri Pendidikan , Juliana Apia , kini
tengah menerapkan system pendidikan baru yang disebut dengan pendidikan
berkarakter dan sederhana. Kebijakan ini mendapat banyak kontra sebelumnya,
tetapi setelah pidato Apia yang berjudul power of dream diusung
ke publik, banyak mahasiswa dan pelajar yang mendukung kebijakan ini, ….” Gadis
itu pun tertegun, nama dan judul pidato itu seperti tidak asing ditelinga gadis
tersebut.
“Bukankah itu teman masa kecil mu Aleena?” Tanya seorang Ibu pada anaknya yang
kini terdiam. Hening, tidak ada jawaban dari Aleena.
“Oh iya, kemarin ayah pergi kerumah kakek
dan bertemu dengan orang tua Amelia temanmu itu, ternyata dia sudah jadi dokter
yang sukses sekarang, ayah dengar dia juga bekerja di organisasi WHO yang terkenal
itu,” ucap seorang ayah panjang lebar
sembari menyeruput tehnya. Wanita itu kembali tersenyum dan bergumam kecil pada
dirinya sendiri,
“Ya, mereka telah berhasil
memujudkannya, mimpi itu.” Bisik gadis itu dan kembali terhenyak dan menatap
butiran bintang yang bertaburan dilangit malam. Kini, pikiran gadis itu
berkecamuk mengingat kembali kejadian-kejadian yang dialaminya dahulu ketika
masih kanak-kanak. Kini, semua nya memang telah berubah dan menjadi lebih baru
dari yang dahulu, seperti kata-kata orang itu, nenek tua renta yang berhasil
mendidiknya dan teman-temannya hingga
mampu mengukirkan mimpi mereka dengan pasti dan nyata seperti sekarang.
.
.
.
Butiran salju kini turun dikota Newyork,
salah salah satu kota terkenal dan terbesar didunia. Dinginnya salju tak
mengurangi semangat seorang gadis yang kini tengah berjalan diatas tumpukan
salju yang menutupi hampir separuh kota Newyork sekarang ini. Bunyi langkah
kakinya teredam oleh hawa dingin salju yang menghujani tubuh mungilnya itu.
“Alika, your friend tell me
to give you this letter!” seru seorang pria berperawakan tegap dan tinggi pada wanita
itu dengan menggunakan bahasa Iinternasional, bahasa
Inggris.
”Okay, thankyou Jonathan.” ucap gadis
itu sembari mengambil surat yang diberikan pria itu kepadanya. Cukup lama wanita
itu membolak-balik amplop surat yang didapatnya itu sembari memainkan ponsel
ditangannya. Dengan raut wajah yang ragu, dibukanya amplop surat itu, kemudian
membacanya. Hanya satu menit, gadis itu telah selesai membaca isi dari selembar
kertas bewarna silver digenggamannya tersebut. Tersenyum, itulah hal pertama
yang dilakukannya kini,
“Oh, meteorologi klimatologi? Aretha kau
mencurangiku! aku baru saja menamatkan pendidikan ku di oxford, kau sudah jadi
ketua BMKG” Gumam wanita itu dengan
kesal tetapi tetap mengukirkan senyuman kebahagiaan diwajahnya. Wanita itu
kembali melanjutkan langkahnya dengan pasti dan juga dengan ukiran senyuman khasnya menuju ke sebuah sekolah besar dan
megah untuk melanjutkan mimpi dari sosok yang sangat dikenangnya, sang nenek.
Mimpi yang mulia, yaitu membuat orang lain bermimpi karena mimpinya. Gadis
dengan jas biru elegan itu berjalan masuk ke sekolah besar dihadapannya dan
tersenyum pada setiap murid yang menyapanya.
“Morning miss Alika! How are you?” sapa
salah seorang muridnya dengan bersemangat pada wanita dihadapannya. Wanita itu
tersenyum ramah pada gadis kecil yang menyapanya sembari memberikan pancaran
mata ketulusan sebagai seorang pendidik kebanggaan para muridnya.
Angin kembali menari dengan indahnya
menerbangkan mimpi-mimpi indah dari banyak anak yang berani untuk bermimpi ke
arah pilar-pilar keberhasilan yang telah bersiap untuk memberikan cahaya pengharapan
bagi mereka.
.
.
.
Malam ini terulang kembali, malam dimana sosok
pahlawan tanpa tanda jasa yang amat penting bagi banyak orang telah pergi.
Malam dimana kelima gadis malang meratapi nasibnya jika tanpa
orang tua renta itu. Tetapi kali ini berbeda, karena mereka bukan
berkumpul karena suatu hari menyedihkan, melainkan mereka berkumpul di makam
kosong yang tak bernyawa ini untuk mengingat jasa seorang nenek tua renta yang
telah berhasil membentuk mereka menjadi bintang yang sesungguhnya dan dapat
berguna bagi banyak orang. Pertemuan singkat ini diprakarsai oleh seorang
wanita muda yang telah berhasil membuktikan bahwa orang desa dan kuno
sepertinya dapat diakui dunia menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa
pengganti sang nenek pemimpi. Tetapi dia bukan hanya sebagai pahlawan tetapi
juga sebagai pendidik para pelajar yang miskin harapan dan mimpi menjadi kaya
akan pengharapan mimpi masa depan mereka. Dia adalah Aleena, seorang Psikolog
muda berbakat yang dipanggil keluar dari negrinya untuk mengajarkan anak-anak
yang tidak tahu akan apa-apa menjadi anak yang sukses dan berkemauan
keras.
“Mimpi adalah perjuangan, perjuangan
adalah hidup, hidup adalah petualangan,
petualangan adalah sejarah, dan sejarah adalah masa depan” Semboyan itu
lah yang selalu diajarkan Aleena pada setiap orang yang membutuhkan
perngharapan baru di hidup mereka. Mereka berlima berdiri didepan makam itu dengan bersimbah air mata
kebahagiaan dan senyuman kebanggaan yang terukir di wajah mereka. Mereka
kembali menerawang setiap peristiwa yang mereka alami hingga mereka tetap dapat
berdiri sampai sejauh ini. Mereka pun mengakui bahwa kata-kata sang nenek yang
selama ini mengajari mereka memang terbukti benar. Dan semua ucapan nenek itu
mendorong mereka hingga sampai pada tingkat ini tanpa terjatuh lagi ke lubang
dalam yang pernah mereka
rasakan.
Pagi itu tanpak hening dan sunyi, alam
seakan tahu bahwa hari ini adalah peringatan kematian sosok baik hati yang
berhati mulia itu.
“Jika engkau ingin bermimpi maka
bersungguh-sungguh lah, dan jika engkau bersungguh-sungguh maka bermimpilah”
gumaman dari Aleena memecah keheningan dipagi itu.
“Jangan khawatir akan kegagalan, karena engkau tidak akan pernah
gagal jika kau tidak berhenti berusaha” sambung Amelia kemudian meskipun dengan
bersimbah air mata,
“Nenek juga bilang, agar kita tersenyum
jika ada yang mengina kita, dan juga jika ada yang membenci kita” ucap Alika
menimpali kata-kata teman-temannya.
“Tetapi ingat, semakin dekat kita dengan
mimpi maka semakin banyaklah mimpi yang kita bagi untuk orang lain” seru Aretha
sembari tersenyum bahagia dengan mata terpejam mengenang sang nenek pemimpi.
“Tidak perlu jika mimpi kita
membuat banyak orang yang memuji kita, tetapi yang terpenting agar
mimpi kita membuat banyak hati yang terbuka dan berani untuk
berusaha” Apia mengakhiri nostalgia mereka dengan senyuman dan hentakkan
kebahagiaan. Mimpi memang tidak masuk akal, tetapi yang masuk akal itu belum
tentu membuka akal pikiran manusia.
Secara tidak langung mereka berlima
telah mewujudkan mimpi sang nenek yang telah banyak mengajari dan membimbing
mereka berlima sehingga menjadi seperti sekarang ini. Perputaran waktu akan
terus berlanjut hingga kelima wanita ini akan mewariskan ajaran sang nenek pada putra-putri
mereka berikutnya, di kehidupan yang akan datang.
Dream come trues
Komentar
Posting Komentar