POWER OF THE DREAM

POWER OF  THE DREAM
.
.
.
Siapa yang tau mimpi itu tabu, tidak ada kan? Hanya dirimu dan usahamu lah yang tau mimpi itu mustahil atau tidak.
Siapa yang tahu mimpi itu hanya imajinasi, tidak ada juga kan? Hanya kebenaran yang dialui dengan usahalah yang dapat membuktikannya.
.
.
.
Air mengalir deras di sepanjang hulu sungai menghanyutkan dedaunan kering yang jatuh di atas permukaannya yang mengalir. Desiran embun pagi pun menyambut kedatangan segerombolan  gadis yang tengah menyisiri tepian sungai dengan senandung lagu bahagia. Kicauan burung-burung gereja pun ikut mewarnai pagi mereka yang tampak berseri. Semangat mereka tampaknya tidak berkurang meskipun jarak perjalanan mereka yang lumayan jauh dan banyaknya jalanan curam dan berlubang yang mungkin saja akan menyambut mereka jikalau mereka tidak berhati-hati.
“Ayo! Kita nanti terlambat!” Seru Aretha, gadis yang berjalan paling depan pada teman-temannya. Keempat temannya yang lain pun mempercepat langkah mereka.  Derap langkah mereka terhenti disebuah gubuk tua yang tidak terawat dan sangat kumuh. Salah satu dari mereka membuka pintu gubuk tua itu dan menyerukan nama seseorang,
 “Nenek, kami datang membawa bekal dan pakaian untuk nenek”  teriakan Amelia, salah satu dari gadis itu memenuhi gubuk kecil yang dipenuhi tumpukan kayu bakar yang berantakan dengan berbagai sampah kecil disekelilingnya. Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berkeliling mencari penghuni gubuk tua nan kumuh itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke sungai yang telah mereka lewati tadi untuk memastikan bahwa orang yang mereka cari memang berada disana.
“Nenek!! Ternyata nenek disini, kami mencari nenek sedari tadi, ini kami bawakan nenek makanan dan pakaian” ucap gadis bernama Aleena pada nenek  tersebut. Orang tua itu hanya membalas dengan senyumannya yang rapuh dan tulus, kemudian berjalan mendekati gadis-gadis  itu. Ketulusan nenek itu dapat terpancar dari kesabaranya mendidik dan mengajari gadis-gadis itu tanpa mengeluh. Setiap harinya, sepulang sekolah, gadis-gadis itu memang selalu datang kerumah nenek itu untuk belajar dan sekaligus membantu nenek itu bekerja di kebun serta membantunya juga menangkap ikan. Seperti halnya yang mereka lakukan sekarang ini.
”Kalian harus berusaha dulu, baru kalian boleh  protes, jadilah anak yang sabar.” Ucap nenek itu menyemangati anak-anak  itu,
“Baik! Kami mengerti nek. Kami tidak mengeluh lagi.” Jawab mereka dengan patuh pada sang nenek. Pertemuan mereka dengan nenek tua yang tinggal digubuk reyot itu awalnya adalah ketika kelima gadis itu tengah menjalani kegiatan perkemahan dihutan di dekat sekolah mereka. Mereka berlima tersesat hingga keluar dari hutan dan bertemu dengan nenek baik hati yang bersedia memberikan kelima gadis itu makanan dan minuman serta mengantarkan mereka kembali ke perkemahan. Sejak saat itu mereka berlima selalu datang menemui nenek itu untuk memberikan bekal ataupun sekedar melihat keadaan  nenek itu. Kini, gadis-gadis itu telah tumbuh menjadi  gadis yang mandiri dan semua itu berkat bimbingan nenek yang selalu mengajari mereka tentang arti dari sebuah  mimpi yang bisa membawa mereka kepada sebuah perubahan baru. Nenek sang pemimpi itu pun sering bercerita tentang pengalamannya dalam berjuang mewujudkan mimpinya yang mungkin tidak akan akan pernah tercapai secara nyata, tetapi dia selalu percaya bahwa mimpinya yang sejati sebenarnya telah terwujud. Mimpi sang nenek memang bukan mimpi yang bisa diwujudkan  dengan mudah. Nenek tua rapuh itu selalu mengatakan bahwa mimpinya adalah untuk membuat orang lain pun bermimpi. Aneh, tetapi itu sungguh mimpi yang mulia dan tidak pernah ada yang berfikir untuk mempunyai mimpi seperti itu.
“Kegigihan dan kemauan keraslah yang mengantarkan mimpi kita pada kenyataan” kata-kata yang di katakan sang nenek ini selalu memotivasi gadis-gadis itu dalam pembelajaran mereka sekaligus dalam mencapai keinginan dan harapan mereka.

Malam ini tidak seperti malam-malam biasanya. Malam ini sejarah kembali terukir di atas batu nisan kumuh yang dilumuri air mata dari banyak orang yang menangisi kepergian penghuni makam itu. Wajah-wajah sedih terpancar dari setiap orang yang menatap nanar nisan mati yang berdiri tanpa suara di depan  mereka. Terlalu lama mereka menyadari akan nenek tua renta yang tak bernyawa yang kini telah ditimbun butiran tanah yang lembab karena diresapi air hujan. Nenek tua itu telah lama menghabiskan hidupnya untuk mengabdi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu setia mendidik orang-orang yang miskin ilmu dan pengetahuan menjadi orang-orang terpelajar dan kaya akan ilmu pengetahuan. Kini, waktu telah habis dan saatnya ia kembali pada Penciptanya. Banyak yang menyadari siapa dia sebenarnya, tetapi hanya sedikit yang mengakui serta menghormatinya sebagai pendiri sekolah di kaki bukit biru kecil tersebut. Setelah masanya habis, tidak ada yang pernah peduli pada pahlawan yang  tak kenal lelah seperti dirinya. Hanya kelima gadis  itulah yang mau untuk bergaul dengan nenek tua renta sepertinya, dan juga hanya merekalah yang mengerti mimpi dan harapannya selama ini. Tetapi, ini sudah terlambat untuk menyesali kepergian seorang  nenek perkasa sepertinya. Semuanya hanya bisa jadi sejarah yang berharga untuk dikenang oleh kelima gadis malang yang kehilangan guru terbaiknya. Hari demi hari mereka jalani dengan kesepian dan juga kerinduan pada sosok hangat yang selalu menjaga dan mendidik mereka tanpa kenal lelah maupun gerah.
Namun, semua itu telah berlalu, mereka hanya bisa mengenang sang nenek pemimpi yang selalu menyemangati dan menghibur mereka.  
“Nak, kita memang orang biasa yang tidak mengerti apa-apa, tetapi ingat kita juga harus berjuang dan bangkit dari keterpurukan kita” kata-kata itu teringat oleh mereka dan akhirnya mereka pun menyadari kata-kata nenek memang benar dan mereka harus tetap kuat dan tegar biar apapun yang mereka alami dan sepahit  apapun masalah yang mereka hadapi. Kelima gadis itu pun memegang dan menjaga kata-kata itu dalam hati mereka dan mencoba untuk tidak menangisi kepergian sang nenek, melainkan menjadikannya kekuatan bagi mereka untuk tetap kuat dan menjadi yang terbaik kedepannya.

Hari ini, hari yang sangat menentukan bagi kelima gadis itu. Berhasil atau tidak nya mereka bergantung pada hari ini, dan semua perjuangan mereka untuk belajar siang malam pun akan terbayar pada hari ini. Dapat terlihat begitu banyak siswa yang tengah berkumpul menanti hasil keringat mereka yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Debaran jangtung mereka terasa sangat cepat dan keringat yang bercucuran dipelupuk mata mereka semakin menambah ketegangan saat ini. kepala sekolah dan para majelis  guru terlihat santai dan seperti tidak peduli dengan nasib para siswanya, entah itu disengaja atau pun tidak.
Kepala sekolah berkali-kali mengusap keringat ditengkuknya dengan  raut wajah yang sulit diartikan dan hal ini membuat para siswa semakin tegang. Perlahan tapi pasti, kertas putih itu dibacanya dengan perlahan didepan ribuan telinga yang bersiap mendengar apapun yang diucapkannya,
“Kalian semua…LULUS!” Hanya tiga kata, mampu membuat semua siswa meloncat girang dan saling memeluk satu sama lain. Hanya tiga kata, tapi mengukirkan perjuangan mereka yang telah menanti selama tiga tahun lamanya hanya untuk saat-saat seperti ini. Seperti halnya kelima siswi yang kini tengah mengukirkan senyum kemenangan dan pancaran mata ketulusan seraya menatap bangga pada sebuah makam yang terletak ditepi sekolah mereka. Mereka yakin dan percaya bahwa sosok yang mereka rindukan kini tengah mengacungkan jempol kebanggaannya dengan senyuman khasnya yang memancarkan ketulusan pada mereka berlima. Mimpi itu memang indah seperti ucapannya, dan  mimpi itu akan lebih indah lagi jika berbagi dengan orang lain yang tidak memiliki mimpi tersebut.
“Kemana kalian akan melanjutkan?” Tanya Apia pada keempat sahabatnya tersebut. Mendengar pertanyaan tersebut mereka berlima pun saling berpandangan menunggu jawaban satu sama lainnya.

Kini roda waktu telah berputar dan kabut masa depan telah datang menyelimuti dunia. Rerumputan hijau dan  padang yang luas memanjang  telah berganti dengan gedung pencakar langit nan megah dan mewah. Keindahan alam yang dahulunya menyegarkan dan menenangkan kini telah menjadi ladang industri dan perkotaan. Kelima gadis  yang  dahulunya bermain ceria menyisiri sungai-sungai dan ladang kini telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang telah berhasil mewujudkan  mimpi serata harapan mereka. Seorang gadis berjalan dibawah taburan bintang seraya membenamkan dirinya pada alunan musik yang kini tengah didengarnya. Derap langkah gadis itu terhenti ketika ia berpapaan dengan seseorang di sebuah jalanan kecil.
 “Apakah kakak ikut terbang ke tempat itu?” Tanya seorang gadis belia yang kini berdiri berhadapan dengan gadis itu,
“Tentu, mimpi kakak telah terwujud dan sekarang kakak akan berbagi dengan orang lain.” Ucap gadis itu dengan bijaksana pada gadis kecil itu.
“Apakah akan lama?” Tanya gadis itu kembali pada gadis yang tengah mendengar musik tersebut.
“Dengar ya, kakak pasti akan pulang dan menemanimu bersama ibu dan ayah, tetapi setelah misi kakak berhasil. Oke?” gadis itu mengelus lembut rambut adik kesayangannya itu dengan penuh kasih,
”Kak Aleena janji?” Gadis kecil itu melingkarkan kelingking mungilnya pada jari kakak nya tersebut. Kedua kakak beradik itu pun masuk kedalam sebuah rumah sederhana yang terawat dengan baik. Sambutan yang kecil memang, tetapi cukup meriah bagi wanita yang tengah  tersenyum manis pada seluruh orang yang berada didepannya. Kakinya kembali melangkah menuju arah yang diinginkannya dengan perlahan tapi pasti. Langkah kakinya pun terhenti didepan televisi yang tengah menyala dengan suara yang lumayan keras,
“…Menteri Pendidikan , Juliana Apia , kini tengah menerapkan system pendidikan baru yang disebut dengan pendidikan berkarakter dan sederhana. Kebijakan ini mendapat banyak kontra sebelumnya, tetapi setelah pidato Apia yang berjudul power of dream diusung ke publik, banyak mahasiswa dan pelajar yang mendukung kebijakan ini, ….” Gadis itu pun tertegun, nama dan judul pidato itu seperti tidak asing ditelinga gadis tersebut.
 “Bukankah itu teman masa kecil mu  Aleena?” Tanya seorang Ibu pada anaknya yang kini terdiam. Hening, tidak ada jawaban dari Aleena.
“Oh iya, kemarin ayah pergi kerumah kakek dan bertemu dengan orang tua Amelia temanmu itu, ternyata dia sudah jadi dokter yang sukses sekarang, ayah dengar dia juga bekerja di organisasi WHO yang terkenal itu,” ucap seorang ayah  panjang lebar sembari menyeruput tehnya. Wanita itu kembali tersenyum dan bergumam kecil pada dirinya sendiri,
“Ya, mereka telah berhasil memujudkannya, mimpi itu.” Bisik gadis itu dan kembali terhenyak dan menatap butiran bintang yang bertaburan dilangit malam. Kini, pikiran gadis itu berkecamuk mengingat kembali kejadian-kejadian yang dialaminya dahulu ketika masih kanak-kanak. Kini, semua nya memang telah berubah dan menjadi lebih baru dari yang dahulu, seperti kata-kata orang itu, nenek tua renta yang berhasil mendidiknya dan  teman-temannya hingga mampu mengukirkan mimpi mereka dengan pasti dan nyata seperti sekarang.
.
.
.
Butiran salju kini turun dikota Newyork, salah salah satu kota terkenal dan terbesar didunia. Dinginnya salju tak mengurangi semangat seorang gadis yang kini tengah berjalan diatas tumpukan salju yang menutupi hampir separuh kota Newyork sekarang ini. Bunyi langkah kakinya teredam oleh hawa dingin salju yang menghujani tubuh mungilnya itu.
“Alika, your  friend tell me to give you this letter!” seru seorang pria berperawakan tegap dan tinggi pada wanita  itu dengan  menggunakan bahasa Iinternasional, bahasa Inggris.
”Okay, thankyou Jonathan.” ucap gadis itu sembari mengambil surat yang diberikan pria itu kepadanya. Cukup lama wanita itu membolak-balik amplop surat yang didapatnya itu sembari memainkan ponsel ditangannya. Dengan raut wajah yang ragu, dibukanya amplop surat itu, kemudian membacanya. Hanya satu menit, gadis itu telah selesai membaca isi dari selembar kertas bewarna silver digenggamannya tersebut. Tersenyum, itulah hal pertama yang dilakukannya kini,
“Oh, meteorologi klimatologi? Aretha kau mencurangiku! aku baru saja menamatkan pendidikan ku di oxford, kau sudah jadi ketua BMKG” Gumam  wanita itu dengan kesal tetapi tetap mengukirkan senyuman kebahagiaan diwajahnya. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya dengan pasti dan juga dengan ukiran senyuman  khasnya menuju ke sebuah sekolah besar dan megah untuk melanjutkan mimpi dari sosok yang sangat dikenangnya, sang nenek. Mimpi yang mulia, yaitu membuat orang lain bermimpi karena mimpinya. Gadis dengan jas biru elegan itu berjalan masuk ke sekolah besar dihadapannya dan tersenyum pada setiap murid yang menyapanya.
“Morning miss Alika! How are you?” sapa salah seorang muridnya dengan bersemangat pada wanita dihadapannya. Wanita itu tersenyum ramah pada gadis kecil yang menyapanya sembari memberikan pancaran mata ketulusan sebagai seorang pendidik kebanggaan para muridnya.
Angin kembali menari dengan indahnya menerbangkan mimpi-mimpi indah dari banyak anak yang berani untuk bermimpi ke arah pilar-pilar keberhasilan yang telah bersiap untuk memberikan cahaya pengharapan bagi mereka.
.
.
.
 Malam ini terulang kembali, malam dimana sosok pahlawan tanpa tanda jasa yang amat penting bagi banyak orang telah pergi. Malam dimana kelima gadis malang meratapi nasibnya jika tanpa orang  tua renta itu. Tetapi kali ini berbeda, karena mereka bukan berkumpul karena suatu hari menyedihkan, melainkan mereka berkumpul di makam kosong yang tak bernyawa ini untuk mengingat jasa seorang nenek tua renta yang telah berhasil membentuk mereka menjadi bintang yang sesungguhnya dan dapat berguna bagi banyak orang. Pertemuan singkat ini diprakarsai oleh seorang wanita muda yang telah berhasil membuktikan bahwa orang desa dan kuno sepertinya dapat diakui dunia menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa pengganti sang nenek pemimpi. Tetapi dia bukan hanya sebagai pahlawan tetapi juga sebagai pendidik para pelajar yang miskin harapan dan mimpi menjadi kaya akan pengharapan mimpi masa depan mereka. Dia adalah Aleena, seorang Psikolog muda berbakat yang dipanggil keluar dari negrinya untuk mengajarkan anak-anak yang  tidak tahu akan apa-apa menjadi anak yang sukses dan berkemauan keras.
“Mimpi adalah perjuangan, perjuangan adalah  hidup, hidup adalah petualangan, petualangan adalah sejarah, dan sejarah adalah masa depan” Semboyan itu lah yang selalu diajarkan Aleena pada setiap orang yang membutuhkan perngharapan baru di hidup mereka. Mereka berlima berdiri didepan makam  itu  dengan bersimbah air mata kebahagiaan dan senyuman kebanggaan yang terukir di wajah mereka. Mereka kembali menerawang setiap peristiwa yang mereka alami hingga mereka tetap dapat berdiri sampai sejauh ini. Mereka pun mengakui bahwa kata-kata sang nenek yang selama ini mengajari mereka memang terbukti benar. Dan semua ucapan nenek itu mendorong mereka hingga sampai pada tingkat ini tanpa terjatuh lagi ke lubang dalam yang  pernah  mereka rasakan.

Pagi itu tanpak hening dan sunyi, alam seakan tahu bahwa hari ini adalah peringatan kematian sosok baik hati yang berhati mulia itu.
“Jika engkau ingin bermimpi maka bersungguh-sungguh lah, dan jika engkau bersungguh-sungguh maka bermimpilah” gumaman dari Aleena memecah keheningan dipagi itu.
 “Jangan khawatir akan  kegagalan, karena engkau tidak akan pernah gagal jika kau tidak berhenti berusaha” sambung Amelia kemudian meskipun dengan bersimbah air mata,
“Nenek juga bilang, agar kita tersenyum jika ada yang mengina kita, dan juga jika ada yang membenci kita” ucap Alika menimpali kata-kata teman-temannya.
“Tetapi ingat, semakin dekat kita dengan mimpi maka semakin banyaklah mimpi yang kita bagi untuk orang lain” seru Aretha sembari tersenyum bahagia dengan mata terpejam mengenang sang nenek pemimpi.
“Tidak perlu jika mimpi kita membuat  banyak orang yang memuji kita, tetapi yang terpenting agar mimpi kita membuat banyak hati yang  terbuka dan berani untuk berusaha” Apia mengakhiri nostalgia mereka dengan senyuman dan hentakkan kebahagiaan. Mimpi memang tidak masuk akal, tetapi yang masuk akal itu belum tentu membuka akal pikiran manusia.

Secara tidak langung mereka berlima telah mewujudkan mimpi sang nenek yang telah banyak mengajari dan membimbing mereka berlima sehingga menjadi seperti sekarang ini. Perputaran waktu akan terus berlanjut hingga kelima wanita ini akan mewariskan  ajaran  sang nenek pada putra-putri mereka berikutnya, di kehidupan yang akan datang.


Dream come trues


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUDAHKAH GMKI MENJADI SEKOLAH PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN NILAI – NILAI GMKI ?

REFLEKSI DIRI : PAHLAWAN SAMAR DALAM MEMORIAL

Perkenalan Edisi I