Namanya Mimpi.




Namanya Mimpi. Ia lahir dari benih-benih cinta dan perkawinan antara ekspektasi dan realisasi. Sebuah harmonisasi dari sebuah ikatan janji. Ayahnya adalah Suka. Dan ibunya adalah Cita. Ia memiliki segudang keinginan sejak dalam kandungan. Namun, ia juga memiliki ribuan kekhawatiran yang menghantui setiap malam. Mimpi senang berangan-angan untuk menjadi terkenal. Ia juga bercita-cita menjadi salah satu pujangga yang di idam-idamkan. Mimpi adalah anak yang penurut jika dilihat dari depan. Namun, ia adalah tipe pembangkang jika diperhatikan dari belakang. Mimpi selalu berkoar-koar tentang harta, tahta, dan cinta. Namun, ia sendiri enggan merajut benang usaha. 
Suatu hari, Mimpi tertampar keras oleh realita. Ia terjatuh ke dasar jurang dan merasakan  patah hati yang sulit menghilang. Mimpi menunduk malu dan menyesali segala onar laku. Mimpi pun berjanji dalam hati untuk berubah dan mawas diri. Mimpi berangsur-angsur dewasa. Mengikis sedikit demi sedikit kesombongan masa remaja. Mencoba serius menggapai masa depan. Agar ia tidak mengalami penyesalan jika menyia-nyiakan kesempatan. Mimpi giat bekerja dan tidak lupa juga untuk berdoa. Meskipun harus mengorbankan kebahagiaan dunia, meninggalkan kekasih masa muda, berkali-kali melewati badai pasir, terjun ke jurang tidak berujung, menapaki lautan penuh duri, terbang terbawa badai, atau pun berlari ke gua penuh singa. Mimpi tidak akan berhenti berusaha.
Semua akan dilakukannya dengan penuh sukacita. Meskipun membutuhkan waktu yang lama. Kegagalan yang menumpuk beribu-ribu banyaknya. Sampai saatnya tiba bagi Mimpi untuk memetik buah dari iman dan pengharapan. Menginjak tangga teratas dari menara popularitas. Dan menyematkan gelar pada dadanya yang kekar. Saat itu, Mimpi akan bersyukur dan bersujud sampai dagu menyentuh abu. Ia akan mengingat semua neraka yang terlalui selama membangun Istana Karya dari peluh dan kurasan tenaga. Ujian yang ia selesaikan untuk sebuah keberhasilan. Dan kesempatan yang direalisasi agar tidak berakhir menjadi fiksi. Ya, Mimpi akan mengingat semuanya dalam memori. 
Mimpi juga akan memelihara asa, menumbuhkan rasa dan logika yang setara, serta menerapkan era et labora dalam setiap rencana dan realita. Benar, Mimpi telah menyiapkan semua bahan baku yang dibutuhkan agar tetap bersahaja dan legawa. Ia bernazar setiap malam dan belajar ketika fajar. Ia tidak akan berhenti hanya karena afeksi. Bagi Mimpi, emosi tidaklah haram untuk dimiliki. Namun, perlu dikelola agar dapat menjadi berkat. Bukan justru menjadi penyakit yang tidak ada obat. Seluruh sekuens itu, ia jalani setiap hari. Agar ketika Mimpi beranjak memasuki dunia senja, ia akan menghargai setiap proses yang menghasilkan norma.
Ketika dongeng miliknya telah mendekati akhir. Mimpi akan menuliskan kisahnya dalam bentuk nasehat-nasehat sederhana namun bermakna. Agar jatuh bangun perjuangan yang ia lakukan dapat menjadi inspirasi untuk berani gila. Gila berpikir dan gila berusaha. Sehingga, ketika kematian datang menjemputnya. Mimpi tidak akan memiliki penyesalan yang tertinggal di dunia. 
Ia akan pergi dengan bernapas lega dan menghadap Pencipta dengan berlapang dada. Karena, Mimpi dapat membuktikan bahwa terlahir oleh hasrat manusiawi, digerakkan oleh naluri dan cenderung menuai dosa berkali-kali, tidak akan menghambatnya sama sekali. Mimpi juga membuktikan bahwa usaha yang disertai doa akan menghasilkan buah-buah mahakarya. Sekeras apapun cobaan dan sepahit apapun rasa kekalahan. Mimpi percaya, semuanya akan di perangi oleh nilai-nilai kehidupan.
Ya, namanya Mimpi. Ia telah berlari dan melampaui imajinasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SUDAHKAH GMKI MENJADI SEKOLAH PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN NILAI – NILAI GMKI ?

REFLEKSI DIRI : PAHLAWAN SAMAR DALAM MEMORIAL

Perkenalan Edisi I