The Chronicles Of The First Nephilim
Suara-suara berisik yang tercipta dari pergesekan logam dengan logam terdengar sangat nyaring. Percikan-percikan bunga api dari tungku pembakaran terkadang mengenai meja kayu kecil yang berdiri agak miring disampingnya. Salah satu kakinya bengkok karena keropos parah, namun tidak kunjung diperbaiki dan hanya ditambal oleh kerikil-kerikil kecil yang kebetulan ditemukan disekitar tempat itu. Hal ini cukup aneh, mengingat pemilik rumah itu adalah seorang penempa senjata terbaik disepenjuru kota. Tentunya, untuk memperbaiki sebuah meja kayu tidak akan merepotkannya. Langkah-langkah kaki terburu-buru mendekat. Suara kenop pintu menghentikan koor melodi berisik di ruangan itu. Sang empunya menoleh dengan kejengkelan luar biasa. Menyadari presensi dari tamu yang dia tunggu-tunggu sejak pagi.
“Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu Julius. Wanita itu hanya memanfaatkanmu!” nada tinggi khas Anthony menuduhnya.
Julius hanya menatap jengkel temannya sekaligus tangan kanannya tersebut. Malas untuk berkilah dan beralibi. Julius mengabaikan gerutuan dari seorang Mark Anthony.
Julius tidak berpikiran sama dengan pria berbadan kekar yang kini berkacak pinggang dihadapannya.
“Senjataku, Anthony. Aku kemari bukan untuk mendengar petuah-petuahmu. Besok ada pertumpahan darah penting yang harus kuhadiri. Jadi, persoalan itu nanti-nanti saja,” ucap Julius cuek. Tidak terlalu tertarik dengan nasehat temannya.
Mark Anthony tidak habis pikir dengan jalan pikiran Julius Caesar. Terkadang dia benar-benar tidak bisa memahaminya. Julius itu pintar, sangat pintar. Salah satu jenderal paling jenius dimasanya, dan kini menjadi Kaisar Romawi yang paling berjaya. Julius juga sangat terkenal dengan taktik perangnya yang tiada lawan. Sehingga, Anthony tidak bisa percaya ketika Julius mau-mau saja dibujuk oleh seorang wanita yang bahkan tidak lagi perawan.
“Mark Anthony. Senjataku!” ulang Julius dengan oktaf yang lebih tinggi.
Anthony tahu bahwa saat ini bukan saatnya untuk berdebat. Teman sekaligus Kaisarnya adalah orang yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Hah. Manusia. Terkadang Anthony juga meragukan sisi manusiawi dari Julius. Dengan hati bersungut-sungut dan wajah muram, Anthony meraih bilah senjata yang telah ditempanya semalaman dari tungku pembakaran. Membersihkan sedikit noda hitam dari ujung-ujungnya. Dan memasang pegangan yang terbuat dari emas dengan ukiran-ukiran rumit berbahasa latin. Khasnya Romawi kuno.
“Aku sudah membuatnya seperti permintaanmu. Tetapi, tolong pertimbangkan perkataanku Kaisar. Semua ini demi Romawi yang penuh kejayaan.” Menyodorkan pedang titanium dengan gagang emas kepada Julius. Kemudian, pandangannya beralih pada peralatan-peralatan pembuatan senjata di atas meja kerjanya. Tepat dibelakang Julius berdiri.
“Aku tidak bermaksud mengusirmu. Namun, aku memiliki banyak pesanan. Aku harap kau tidak tersinggung Julius,” ujarnya setengah hati.
Anthony benar-benar sedang tidak ingin diganggu saat ini. Dia begitu kesal karena Julius masih saja berhubungan dengan penyihir wanita kejam dari gurun pasir.
Lagi pula, apa menariknya seorang Cleopatra?
“Terimakasih. Omong-omong, perbaiki kaki mejamu. Mungkin saja itu akan menjadi berguna di masa depan.” Julius mengucapkan salam basa-basi singkat, kemudian melenggang pergi dari rumah penempaan senjata terbaik di kerajaannya.
E.X.C.A.L.I.B.U.R
Begitulan tertulis pada bilah pedang miliknya tersebut. Julius mengamati dengan seksama setiap inci dari pedang itu. Mengagumi pantulannya yang sungguh elok. Dia jadi mengingat masa lalu. Dahulu, anak itu juga pernah membuatkan pedang untuknya. Pedang yang sama, karena jiwa yang sama juga menempanya. Namun, pedang itu menghilang entah kemana saat Julius dalam perjalanan pengembaraannya. Ya, pengembaraan yang sudah berlangsung sejak dia muda.
Sial. Ada apa dengannya? Dia selalu saja mengingat masa lalu setiap kali berjumpa dengan orang-orang yang dikenalnya. Disarungkannya pedang barunya dengan elegan. Kemudian berjalan cepat menuju tempat yang telah dijanjikannya kepada wanita itu.
Orang-orang yang melihatnya melintas di jalan kota, memberinya akses agar dia bisa lewat. Julius senang dengan cara mereka menghormatinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julius merasa diakui dan dihormati. Bukan hanya karena paras eloknya, perawakannya, atau bahkan Tanda yang ia bawa-bawa sejak dahulu kala.
Julius juga harus bersyukur karena banyak manusia yang sudah lupa akan kisahnya, sejak kejadian penenggelaman Gaia. Catatan mengenai dia juga menghilang. Tidak ada lagi orang-orang yang akan ketakutan saat Julius melewati mereka atau berada disekitar mereka.
Azazel, begitu dahulu mereka menyebutnya, telah mengajarkannya menyembunyikan diri-nya dan bahkan menggunakan Tanda yang diberikan kepadanya. Kini, orang-orang akan menatapnya karena hasil usahanya, bukan karena kronik hidupnya. Dia telah mengorbankan banyak hal agar dapat mendaki setinggi ini. Julius telah belajar siang dan malam tanpa kenal berhenti. Mengamati semua hal yang bisa dia amati. Berguru dari banyak orang-orang hebat yang bahkan tidak tercatat di sejarah Bumi. Julius juga mencari ilmu pengetahuan sampai ke perut bumi, tempat Para Pembangkang telah ditawan.
Ah, sudah lama sekali ternyata kehidupan ini berjalan.
“Julius Caesar. Anda sungguh datang ternyata. Aku mengira semua itu hanya akal-akalanmu saja.” sebuah suara feminim yang selalu memabukkannya menyapa dari seberang sana.
Julius dengan sigap melompati akar pohon yang menghalangi jalannya. Dipercepatnya langkah kakinya dan beringsut mendekat kewanita pujaannya.
“Ratu Cleopatra. Sungguh sebuah kehormatan dapat mengundangmu ke taman ini.” Julius meraih tangan kiri Sang Ratu, kemudian mengecupnya lembut.
“Aku tidak tahu jika Julius Caesar yang hebat itu, bisa berlaku semanis ini,” puji Cleopatra dengan senyum manisnya. Matanya menatap Julius terkesan.
“Aku selalu manis Lu-, maksudku, Cleopatra. Bolehkan aku memanggil begitu?” mengoreksi kalimatnya dengan cepat, kemudian ikut tersenyum bersama Sang Ratu.
Julius senang setiap kali wanita itu bertemu dengannya. Entah dahulu atau pun sekarang. Cleopatra selalu cantik dimatanya. Bukan berarti orang lain akan mengira wanita ini tidak cantik. Tetapi, bagi Julius. Bagaimanapun rupanya, kulitnya, perawakannya, isi otaknya, ataupun latar belakangnya. Cleopatra selalu menjadi cantik dengan caranya sendiri. Memikat setiap pria yang mendambanya tanpa kenal ampun. Pesona sejati yang tidak pernah dimiliki oleh kaum Hawa manapun.
Julius duduk di bangku taman kerajaan yang telah dibangunnya setahun yang lalu. Cleopatra bersimpuh di sampingnya dengan anggun. Tidak ada pengawal diantara mereka. Julius mengusir mereka ketika sampai di gerbang taman. Dia tidak ingin diganggu ketika sedang berduaan dengan kekasih hatinya. Meskipun dia juga tahu bahwa Cleopatra akan berpaling darinya dan memilih sahabat karibnya. Ini adalah hukumannya. Kutukannya untuk merasakan karma dari si Keputusasaan. Ditinggalkan dan kehilangan.
Lamunannya cukup lama sehingga membuat seorang Cleopatra mengernyit heran dan menyentuh pundaknya untuk mengembalikan ingatan Julius kepada masa sekarang.
“Apa yang kau pikirkan Julius? Kau baik-baik saja?”
“Ya, aku tidak apa-apa.” Jawabnya singkat.
Dia enggan untuk melirik barang sedetik kepada entitas yang ada disampingnya. Terkadang dia berpikir, Pencipta acap kali mempermainkannya. Mengaduk-aduk emosinya dan membuat perasaan berdosa dalam jiwanya meronta-ronta. Seperti saat ini, kebetulan yang sungguh terlalu disengaja.
“Kau yakin Napoleon?” ulang suara bariton tersebut khawatir.
Napoleon mengangguk kikuk. Berusaha agar tidak membuat rekannya tersebut khawatir. Peter selalu menjadi teman yang perhatian. Berhati lembut dan sangat peduli dengan keluarga dan teman-temannya. Napoleon beruntung menjumpainya di kehidupan ini.
“Jadi, bagaimana?” nada suara Peter sudah agak santai. Tidak lagi mengkawatirkan sang teman dengan berlebihan dan kembali ke topik awal.
Napolen mengambil napas sejenak. Dia bingung harus mengatakan apa. Sehingga, dia membiarkan tubuhnya diambil alih oleh rasa cintanya lagi.
Melihat respon dari Napoleon, membuat Peter tertawa senang. Kemudian mengajak temannya tersebut bertos ria ala lelaki dewasa. Sambil bergumam tentang hal-hal tidak penting seperti janji akan memainkan lagu pernikahan dan bersedia menjadi pendamping mempelai pria.
Napoleon hanya bisa tersenyum. Tidak tega untuk memberitahukan fakta sebenarnya kepada teman yang sangat ia anggap saudara, ayah, anak, bahkan cucunya sendiri.
Dan disinilah dia sekarang berada. Di antara dekorasi serba putih dan iringan melodi-melodi cinta yang berkumandang hingga ke ujung jalan. Napoleon gugup sekaligus senang. Meskipun dia tahu bahwa akhirnya akan terluka, namun Napoleon tetap mencoba untuk menikmati semuanya. Suara derap pelan dari kedua pasang langkah kaki mengalihkan perhatiannya.
Lagi-lagi Napoleon terpesona. Ah, indahnya sebuah ciptaan. Wanita itu, Josephine, berjalan di iringin oleh ayahnya. Mendekat ke depan mimbar, dimana Napoleon berada. Mereka berdua saling tatap. Enggan melepas koneksi. Hingga jarak terkikis dengan pasti. Menyisakan sebuah ikrar sehidup-semati.
Napoleon menjalani hidup berbahagia untuk beberapa waktu. Meskipun wanita itu adalah versi lebih cuek dari yang dia dambakan. Napoleon tetap berusaha untuk menarik atensi. Biarlah untuk sekarang dia berupaya meskipun harus berujung kekesalan. Napoleon tahu itu. Dia tahu jika wanita itu memantik api dan bermain-main dibelakangnya. Namun, selagi Napoleon tidak melihat dengan matanya sendiri. Dia akan berpura-pura lugu dan tidak tahu.
Namun, seperti dugaannya. Tanda itu akan terus berulang. Tidak peduli betapa Napoleon telah menyesal. Dia akan tetap merasakannya. Menghantui mimpi-mimpinya dan menghempaskan realitanya.
“Aku ingin cerai!” teriak wanita itu frustasi.
Napoleon menatap isterinya datar. Tidak terkejut sama sekali. Oh, jadi kali ini perceraian. Bukan perselingkuhan atau dicampakkan.
Baiklah, ini kemajuan yang baik. Begitu pikir Napoleon.
“Aku berbicara padamu Napoleon Bonaparte! Jika aku tidak bisa memberikanmu keturunan, maka lebih baik aku mati saja. Aku tidak sanggup memperlihatkan wajahku kepada para bangsawan, aku, tidak, semua-” dan Josephine pun menangis.
Tersedu-sedu sekali. Meratap dan meracau dengan sangat kacau. Benar-benar runtuh dan kehilangan minat untuk tumbuh.
Napoleon memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin melihat wanitanya menangis dan merutuki dirinya sendiri. Napoleon tidak sanggup melihat belahan jiwanya menderita karena dosa-dosa yang tidak pernah dia lakoni. Justru, Napoleon yang seharusnya mendapatkan sengsara. Bukan Josephine. Bukan belahan jiwanya.
“Aku tidak ingin kau mati, sayang.” Mulai Napoleon dengan perlahan. Garis-garis rahangnya yang tegas pun melunak.
“Akan kuberikan sebuah pulau yang jauh dari keramaian. Kau bisa menikmati waktumu disana. Kau juga akan tetap menyandang gelar Ratu. Aku tidak akan mengambilnya. Dengan siapa pun aku akan berakhir demi seorang keturunan, kau akan tetap menjadi Ratu Prancis yang aku cintai. Sekarang, nanti, dan sampai maut menjumpai.” Lirih Napoleon berusaha tidak menangis.
Ditegapkannya tubuhnya dan membusungkan dadanya. Seorang Kaisar harus tetap tegar, tidak boleh menunjukkan afeksi yang tidak berarti. Begitulah cara Napoleon mensugesti diri.
Josephine menatap Napoleon penuh cinta. Dia tidak pernah mengira akan mengalami hal ini. Disaat Napoleon dulu datang melamarnya dan menyatakan rasa sukanya, Josephine menerima dengan dagu terangkat. Tidak pernah sekalipun muncul dipikirannya bahwa Napoleon akan benar-benar mencuri hatinya. Surat-surat romansa dan puisi-puisi manis yang selalu dikirimkan oleh Napoleon sebelum menjadi Kaisar tidak pernah menggugah bagian terkecil dari emosinya.
Tetapi, karma selalu berlaku bagi orang-orang yang mengabaikan cinta. Salah satunya adalah Josephine. Mendua berkali-kali dan berakhir menjadi tergila-gila. Dihapuskannya jejak-jejak air mata dari pipinya, Josephine mengambil napas panjang. Ditatapnya Napoleon tepat dinetranya. Perlahan-lahan berangsur mendekat. Diraihnya pundak tegar yang selalu merengkuhnya ketika sedih. Dibenamkannya kepiluannya di dalam pelukan suaminya.
Hanya sepuluh detik, Josephine melepas pelukannya. Menatap mata Napoleon lagi, kemudian berjinjit. Mengecup belahan hatinya dengan penuh rasa. Meluapkan semua kenangan dalam sentuhan lembut yang menghangatkan dada dan menerbangkan kupu-kupu dalam perutnya. Membiarkan waktu berhenti hanya untuk mereka berdua. Saling mencuri oksigen dan berbagi pagutan yang terasa pedih menyayat hati.
Setelah beberapa sekon lamanya, sinkronisasi itu berhenti. Keduanya meraup kembali napasnya dengan perlahan.
Mereka kembali saling tatap. Kali ini tidak dengan cinta. Namun, dengan logika.
Josephine menatap Napoleon dengan raut aristokrat andalannya. Dia telah kembali menjadi Ratu Prancis. Bukan lagi seorang wanita yang merengek karena patah hati.
“Jadi, kapan kita akan memulai proses perceraian ini Kaisar?”
“Minggu depan.” Jawabnya acuh. Masih terfokus dengan berkas-berkas ditangannya. Mulutnya sibuk mengunyah roti hampir basi yang didapatkannya dari tong sampah di dekat bungker miliknya.
Pengawal sekaligus penasehat pribadinya tersebut menatapnya iba. Dunia seakan tergoncang dan membalikkan keadaan. Baru kemarin rasanya Marx menyiapkan segala perlengkapan dan siasat perang bersama tuannya ini. Namun, roda keberuntungan bergerak dengan cepat. Ekspansi wilayah yang menjadi kebanggaan Adolf Hitler sudah berakhir. Polandia telah jatuh ketangan Uni Soviet. Tuannya menjadi pelarian dan buronan nomor satu yang dibenci seluruh pelosok negeri. Lagi-lagi Marx menghela napas. Entah sudah yang keberapa kalinya pagi ini.
“Jangan menatapku dengan pandangan menjijikkan Marx. Aku tidak se-menyedihkan itu. Jadi, tidak perlu mengasihaniku,” cetusnya cuek. Adolf selalu membenci orang-orang yang memandangnya dengan tatapan simpati. Hal tersebut membuatnya merasa sangat hina. Sama seperti waktu itu, ketika untuk pertama kalinya dia membunuh dan dijatuhi hukuman yang bahkan tidak dapat dia tanggung upahnya.
Adolf mendengus. Bisa-bisanya dia mengingat hal itu lagi. Dialihkannya pandangannyan pada secangkir kopi yang terletak di atas nakas di samping tempat tidurnya. Diraihnya cairan kegemarannya tersebut dan menyesapnya dengan santai. Marx masih menatapnya dengan sungguh-sungguh. Seakan-akan Adolf adalah manusia paling malang di dunia. Hei, dia juga tahu bahwa hidupnya adalah defenisi kesialan. Jadi, Marx tidak perlu repot-repot mengingatkannya.
“Berhentilah menatapku seakan-akan aku akan mati.” - meskipun benar sih. Toh, dia harus mengarang riwayat kematian, lagi.
Ditatapnya Marx dengan garang. Kumis khasnya bergerak-gerak galak. “Persiapkan saja yang telah kuperintahkan kepadamu. Aku akan memberitahu Eva melalui telegram.” Lanjutnya kemudian.
Marx menghela napas sekali lagi. Dan seharusnya itu menjadi yang terakhir kalinya untuk hari ini. Karena Adolf sudah muak dengan sifat bak Malaikat kaki tangannya tersebut. Ah, dia sangat membenci Malaikat. Benci sekali.
“Baiklah. Saya akan pesankan setelan anda dan nona Eva Braun. Saya akan memastikan itu siap dalam tiga hari.” Jawabnya pada akhirnya, kemudian berbaik dan pergi dari tempat itu. Meninggalkan Adolf yang kembali berselonjor kaki dan berpikir.
Ya, baguslah Marx sudah pergi. Dia jadi bisa bersantai sedikit. Sepertinya, waktunya akan segera tiba. Tanda tersebut akan kembali terbuka. Adolf harus cepat-cepat mengakhirinya di kehidupan ini. Setelah dia menyelesaikan drama picisan berulang yang dia lakukan bertahun-tahun lamanya ini, dia akan melakukan pengembaraan sekali lagi. Dan menemukan itu.
Saat melakukan ekspansi wilayah kekuasaan jerman beberapa saat yang lalu. Dia kembali bertemu dengan mereka. Para pengkhianat yang bersembunyi di balik bayang-bayang muara hujan. Dan menunggu waktu untuk balas dendam.
Adolf sudah memutuskan. Dia akan memulai pencarian. Memutus rantai kutukan ini dan membawa gadisnya bersama-sama dengannya, beranjak ke tanah terasingkan. Tempat dimana dia melakukan dosa pertamanya. Tetapi, sebelum itu, Adolf harus menghantarkan belahan hatinya ke surga dengan tenang. Eva Braun harus mendapatkan pernikahan yang layak.
Seminggu telah berlalu. Adolf tidak terkejut ketika mendapati Eva berlari-lari ke bunker pribadinya. Memakai gaun pengantin seputih susu yang menjuntai-juntai ujungnya. Dengan riasan wajah yang sederhana dan aura bercahaya yang selalu melekat ditubuhnya sejak dia ada. Dan sebuket mawar biru - yang baru-baru ini Adolf ketahui adalah bunga kesukaan Eva.
Adolf merentangkan tangannya, menyambut wanita muda yang mengabdikan hidupnya untuk mencintainya. Mengelus pelan puncak kepalanya dan mengucapkan kata-kata cinta yang lebih terdengar seperti kata-kata duka. Setelah itu, melepas pelukan mereka dan menyempatkan untuk menyematkan cincin putih berhiaskan berlian ke jari manis mempelainya. Kemudian dengan agresif meraup bibirnya manisnya tanpa ampun. Biarlah ini menjadi ciuman perjumaan sekaligus ciuman perpisahan. Begitu pikir Adolf.
Waktu berhenti dalam beberapa saat. Pasangan itu menikmati momen seakan-akan memiliki semesta dalam rengkuhan masng-masing. Sampai derapan langkah kasar dan saling berdesakan, mendekati mereka. Menghancurkan momen sakral tersebut dalam pertumpahan darah yang hebat.
Suara tarikan-tarikan pelatuk terdengar. Dan muntahan-muntahan peluru melesat ke segala arah. Menerobos tulang dan merobek daging yang dilaluinya. Darah tertumpah disana-sini. Jiwa tercabik-cabik dan tubuh terkulai tidak berdaya.
Termasuk Adolf dan Eva. Mereka terjatuh bersimbah darah dengan tangan saling bertautan. Eva memejamkan matanya dengan anggun. Lengkungan bibirnya dapat terlihat oleh Adolf. Setidaknya wanita itu bahagia sebelum ajalnya. Begitu pikir Adolf.
Sesaat sebelum netranya menggelap, Adolf melihat jasad Marx - hanya kepala, yang digotong oleh tentara-tentara Uni Soviet yang berhasil menemukan persembunyiannya.
Ah, malang sekali kau nak. Begitu pikir Adolf. Seharusnya Marx menjadi penggembala dan membuka peternakan domba. Bukan berkecimpung dalam dunia peperangan dan mejadi kaki tangan seorang diktator tanpa belas kasihan.
Adolf meratapi nasib keturunannya yang begitu nestapa. Kemudian, menutup mata untuk yang kesekian kalinya.
“Buka matamu!” teriak sebuah suara penuh kuasa yang membangkitkan ketakutan terdalam setiap insan.
Cain membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat adalah Biru. Manik lautan yang menatapnya tanpa belas kasihan.
Cain memperbaiki posisinya. Tubuhnya terasa kaku. Hal yang paling merepotkan dari merasuk adalah ini, tubuhnya akan kaku karena terbujur diam selama berpuluh-puluh tahun.
“Oh, diamlah Azazel. Aku sedang tidak ingin diceramahi.” Deliknya sebal kepada sosok raksasa dihadapannya. Bermanik sebiru perairan dan perawakan yang hampir mirip dengannya. Tampan yang tidak masuk akal.
Makhluk yang disebut Azazel tersebut mendengus kasar. Berani sekali si darah campuran ini. begitu pikirnya.
“Jangan pikir aku akan terintimidasi lagi olehmu. Kau sudah tidak punya apa-apa lagi Azazel. Kau bahkan harus bersembunyi di bawah samudera raya untuk menghindar dari murka-Nya.” Sarkas Cain dengan sengit.
Azazel memberengut dan menggerutu tentang anak setengah-setengah yang kurang sopan santun. Cain mengabaikan sungut-sungut Azazel sepenuhnya. Diraihnya tongkat panjang yang tergeletak di sampingnya. Kemudian menggumamkan kalimat-kalimat rancu yang tidak dimengerti siapapun, kecuali kaum ilahi.
Tiba-tiba sebuah buku hitam lusuh muncul dari ketiadaan dihadapannya. Disampingnya, Cain mentransfigurasi sebutir kerikil kecil menjadi sebuah lentera yang apinya redup. Dibukanya buku tersebut langsung ke halaman tengahnya. Azazel sudah pergi entah kemana setelah mengumpat kasar dengan bahasa manusia dan menggerutu lagi tentang anak yang tidak tahu membalas budi. Cain mendecih. Sejak kapan Malaikat Cacat itu jadi sensitif seperti makhluk-makhluk fana? Cain harus mengingatkan Semjaza agar memperhatikan kesehatan mental teman-temannya sesama Pengkhianat Surga.
Cain kembali fokus kepada bukunya. Di lembaran lusuh yang berisi coretan-coretan tangannya tersebut, Cain menuliskan beberapa kalimat.
Tanah Nod.
Tempat dimana dia dibuang oleh-Nya. Salah satu bagian dari negeri surgawi. Timur dari Eden yang termasyur. Tempat dimana dia mendirikan kota manusia yang pertama. Kota Henokh. Tempat yang awalnya dia pikir pembawa sial. Namun, baru-baru ini dia menyadari bahwa tanah itu adalah kunci menemukan jalan menuju Gunung Pencipta.
Gunung Olympus, sebuah sebutan dari masyarakat Romawi dan Yunani. Namun, Cain tahu nama asli dari tempat itu. Ketujuh puncak gunung yang menyala-nyala. Diatasnya terdapat singgasana, dimana para Malaikat Penjaga, tempat Semjaza dan teman-temannya pernah duduk dan bertahta. Mengawasi manusia-manusia dari ketinggian Hermon yang suci.
Ya, itu namanya.
Gunung Hemon, tangga menuju surga. Dimana Eden pernah berdiri dan tamannya menumbuhkan si pohon berbuah abadi.
Cain mencatat dan terus mencatat. Mencoba mencari koordinat yang tepat yang bisa menuntunnya menuju kesana. Pelabuhan asa terakhir yang bisa menyelamatkannya dan Luluwa-nya.
Di timur Taman Eden. Disitulah tepatnya pohon kehidupan berada. Masalah pertama selesai. Sekarang, Cain perlu memecahkan persoalan kedua.
Bagaimana cara menuju tanah Nod?
Gerbang menuju pohon kehidupan?
Tidak ada cara lain.
Cain harus merelakan Keabadian nya pergi. Dari ketiga Tanda Kutukan yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Hanya keabadianlah yang membantunya bertahan hidup dari pengembaraan panjangnya. Membantunya untuk belajar cara hidup manusia dan mengukir prestasi sedikit demi sedikit. Mengembalikan rasa percaya dirinya yang hilang karena penolakan. Dan membuatnya merasa diakui ditengah-tengah banyak kekurangan. Bukan hanya karena parasnya yang rupawan. Atau karena aura pemikat yang didapatkannya dari darah perselingkuhan ibunya dan Malaikat. Tetapi, karena usahanya sendiri.
Sekarang, Cain harus memilih.
Catatan yang dia temukan membawanya pada satu kesimpulan.
Tanah Nod tidak akan pernah dia temukan karena memang bukan berada di dimensi ini. Dia tidak memiliki sihir untuk melintasi antar dimensi. Azazel dan Semjaza beserta teman-teman sesama Malaikat yang terbuang, tidak mengajarkan itu kepadanya. Mereka hanya mengajarkan Cain bagaimana merasuk manusia dan tinggal ditubuhnya. Meskipun mereka mengajarkan berbagai sihir dan pengetahuan. Tetap saja, tidak ada mantra yang bisa menembus lubang antar dimensi dan membuka pintu dunia.
Hanya catatan itu yang dia punya. Catatan milik keturunan Abel, adiknya – yang telah dibunuhnya karena murka. Catatan itu mengatakan larik-larik puisi yang berisi makna-makna samar yang mengarah kepada kunci menuju Eden, negeri yang telah lama hilang.
.
.
.
.
.
.
.
“-dan bagimu wahai keturunan Hawa. Yang telah menumpahkan darah anak dari Manusia. Menikamnya dengan pedang dan menghasilkan dendam. Darahnya akan terus meronta-ronta sampai dendam dibayar setimpal. Jiwamu akan dituntun kembali ke tanah perjanjian. Agar dapat tergenapi kepuasan dan pembalasan dari orang syahid yang pertama dikenal.”
.
.
.
.
.
.
.
Selama ini Cain tidak pernah mati. Dia hanya merasuk kepada tubuh-tubuh manusia yang terlebih dahulu dia ambil jiwanya – trik yang diajarkan Azazel kepadanya. Ketakutan dan kekhawatiran diawal-awal hukumannya, menyebabkan Cain menghindari keramaian dan bersembunyi di balik kegelapan malam. Hingga dia bertemu Azazel beserta teman-temannya yang dibuang dari Hermon dan jatuh ke dasar bumi. Ke sebuah tempat dibalik mulut Samudera Raya. Suatu tempat yang sampai sekarang tidak terjamah dan melawan arus kenormalan alam. Pulau dibalik lautan Bermuda yang ditakuti oleh hampir seluruh umat fana. Tempat yang pernah di tuliskan dalam buku-buku Plato dan murid-murid setelahnya. Peradaban yang dikata hilang, namun ditelan oleh Sang Ganas yang mengamuk karena perintah si Tuan.
Cain menimbang-nimbang keputusannya sekali lagi. Dia butuh berpikir dengan jernih.
Saat ini para Malaikat Penjaga yang terbuang tidak ada untuk membantunya. Mereka tidak bisa pergi dari Atlantis, sampai waktu yang telah ditentukan oleh-Nya datang. Pulau pengasingan itu akan tetap ada di balik Perairan Segitiga. Sehingga, Cain memutuskan untuk mencari sendirian jejak-jejak peninggalan yang dapat membantunya menemukan Eden. Agar dia dapat bergerak dari sana menuju Tanah Nod, kunci menuju gerbang sebuah taman di gunung Hermon.
Cain memperbaiki kasut yang dia kenakan. Menghela napas sangat panjang.
Dia sempat meragu sebentar. Kemudian, dengan segenap keberanian yang datang entah dari mana. Dihujamkannya pedang pemberian Mark Anthony, atau Lamekh – anaknya, di masa lampau. Excalibur menghantam ulu hatinya. Membuatnya tertohok dan terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar.
Cain merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Kesakitan yang tidak pernah membekas di ingatannya. Bahkan, ketika dia merasuki tubuh-tubuh manusia fana. Memisahkan jiwanya dari tubuh Nephilim-nya. Mengambil masa hidup laki-laki yang dia pilih secara acak. Hanya untuk bersua dengan Luluwa-nya. Melihat wajah cantiknya dan hidup bersama-sama untuk sejenak saja. Meratapi hukumannya dan mengulang tragedi yang serupa berabad-abad lamanya.
Aliran dimensi terasa berhenti.
Memoar bak kolase film terlintas di benaknya.
Cain dapat melihat dirinya ketika masih muda yang bersusah payah menanam padi dan mengusahakan tanah yang membenci ayahnya dan keturunannya. Melampiaskan kesal kepadanya yang tidak tahu apa-apa. Berpeluh sejak pagi dan mendapatkan hasil sedikit ketika petang. Mendapatkan perlakuan kejam dari Adam – suami ibunya, atau ayah Abel - adik tirinya. Kenangan saat Adam menyatakan pembagian harta kepada Cain dan Abel. Saat itu, Cain hanya berpasrah diberikan ladang untuk digarap oleh Adam. Dia hanya menggigit kuku melihat Abel mendapat hewan-hewan ternak yang dapat diambil dagingnya dan diperas susunya.
Kilasan berganti. Gambaran yang terbentuk membawanya kepada momen saat Adam memutuskan sebuah aturan inses bagi mereka. Abel diberikan Luluwa. Dan Cain mendapatkan saudara kembar adiknya, yaitu Balbira. Cain tidak dapat menyembunyikan kedengkian dari hatinya. Dia mengingini Luluwa, saudara kembarnya. Gadis yang cantik jelita, mewarisi kemolekan ayah mereka. Tubuh Nephilim yang pertama.
Film tersebut kembali diputar. Kali ini memperlihatkan Julius Caesar – dirinya, yang sedang berciuman dengan Ratu Cleopatra – reinkarnasi Luluwa yang lainnya. Di sebuah taman miniatur dari Taman Eden, yang dibangun oleh Cain sebagai tanda pengingat bahwa dirinya berasal dari sana.
Lahir dari dosa pertama. Mewarisi ketujuh dosa-dosa asli manusia. Hawa Nafsu, dosanya bersama Luluwa, yang berselingkuh dengannya dibelakang Abel dan Balbira. Kerakusan, dosanya yang dia peroleh ketika mengingini hasil ternak adiknya. Keserakahan, ketika dia menginginkan kasih sayang Adam kepadanya setara dengan kasih Adam kepada Abel dan Hawa. Kemalasan, dosa yang dia peroleh ketika setengah hati mengerjakan ladangnya dan memberikan persembahan yang tidak ikhlas kepada Tuanya. Kemurkaan, dosa terbesar yang dia lakukan karena membunuh Abel dan menumpahkan darahnya di tanah perjanjian orang tuanya. Keirian, dosa yang selalu dia lakukan bahkan ketika dia masih kecil, kepada adiknya Abel. Karena Abel selalu mendapatkan yang dia inginkan, berkebalikan dengan Cain yang harus berusaha mati-matian. Dan yang terakhir adalah Kesombongan. Dosa yang diperolehnya karena mencoba membohongi Tuannya, berkilah ketika ditanyakan tentang Abel yang telah meregang nyawa - ditangannya.
Ketujuh dosa itu yang menyebabkan jiwanya tak terampuni, sehingga sebuah Tanda diberikan kepadanya. Tanda yang akan menjaga jiwa dan tubuh Nephilim-nya agar tidak mati di tangan yang lain - selain dari dirinya. Tanda yang memaksanya untuk merasakan Keputusasaan mendalam, ditinggalkan oleh orang yang sangat berarti baginya dan menyaksikannya mati berkali-kali. Dan Tanda Kekuasaan yang akan menjaganya dari musuh-musuhnya. Barang siapa menentangnya, maka akan dibalaskan tujuh kali lipat kesengsaraan.
Cain mengedipkan matanya. Kepalanya sangat pusing karena semua nostalgia abadi yang tiada henti. Kemudian, Cain melihat ribuan gambar mengelilinginya. Salah satu dari potongan gambar itu memperlihatkan dirinya ketika dia menjadi Napoleon, Kaisar Terbesar Prancis yang berakhir tragis.
Potongan lain memperlihatkan citra dirinya yang terbaru. Adolf Hitler, diktator kejam yang tidak memiliki kemanusiaan. Mati bersama dengan reinkarnasi terbaru dari Luluwa. Bersimpuh dalam darah dan mengalami kematian yang mengerikan.
Cain menutup matanya. Merasakan kesakitan hebat yang meresap di setiap pori-pori tubuhnya. Meratapi penderitaan yang terasa seperti neraka. Tubuhnya seolah-olah tercabik-cabik dan ditarik ke segala sisi. Urat-urat nadinya berpilin dan seakan-akan di sayat-sayat dengan pisau berlumur cuka.
Sungguh terluka. Benar-benar hampa.
Cain tidak dapat merasakan apapun lagi dari tubuhnya.
Jiwanya berangsur-angsur keluar dari tubuh Nephilimnya.
Tiba-tiba kosong.
Cain tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Dia hanya menatap gelap, dan gelap. Sejauh matanya memandang, yang ditemukannya hanya kegelapan.
Hingga jiwanya mulai redup dan tubuhnya terbuyar menjadi abu.
Ah, begini ternyata rasanya bunuh diri.
Pantas saja Cain tidak pernah berani.
“Bagaimana rasanya kembali ke asalmu wahai anak-Ku?”
Suara-suara aneh menghantui pikirannya. Ini sudah yang kesepuluh kalinya – sejauh dia menghitung. Namun, dia tidak dapat menyahut. Jangankan bersuara, bergerak saja dia tidak mampu. Tubuhnya lumpuh, lidahnya kelu, dan dia tidak dapat melihat seberkas cahaya apapun. Hanya indera pendengaran yang tidak diambil dari padanya.
“Luluwa. Jangan berlari!” peringat seorang anak laki-laki di belakangnya. Anak laki-laki tampan dan mempesona.
Gadis kecil itu berbalik. Dia tersenyum manis sekali. Anak laki-laki itu terdiam, tiba-tiba merasakan getaran aneh yang tidak pernah dia rasakan.
“Ayolah Cain. Abel dan Balbira sudah menunggu kita!” gadis kecil itu terkekeh senang.
Cain terhenyak. Apa? Gadis itu? L-Luluwa?
“Baiklah. Ayo kita jemput Abel dan Balbira di ladang. Ayah dan ibu sudah menunggu mereka.” Ikut tersenyum, bocah laki-laki yang dipanggil Cain tersebut menggandeng adiknya dengan lembut dan didalam hati berjanji tidak akan melepaskannya selamanya. Sekalipun dia harus mati dalam dosa.
Cain menangis dalam ketiadaan.
Ternyata ini adalah akhirnya.
Ambisinya membawanya kepada keberdosaan yang tidak termaafkan. Jiwanya ditolak dari neraka dan dia tidak layak menempati surga.
Tubuhnya hancur menjadi abu. Dan kini, dia dikutuk menjadi sebatas esensi.
Hanya dapat mendengar dan tertidur dalam ketiadaan yang abadi dibalik bayang-bayang. Jiwanya di lempar melewati dimensi dan kembali ke Eden ketika masih suci.
Menyaksikan loop yang terus terjadi dengan esensinya sendiri. Merutuki kebodohan dan dosa-dosanya terhadap keluarganya dan terhadap keperawanan semesta.
Kini, Cain merasakan apa yang Abel rasakan ketika dia membunuhnya dan menyiramkan darahnya pada bumi.
Cain meratap dan meratap.
Menyesali yang sudah terlambat untuk diperbaiki. Inilah upah dari hasrat duniawi. Dia mencoba mencurangi hukuman Tuannya dan berakhir sebegini menyedihkan. Buah dari Pohon Kehidupan bukanlah sesuatu yang dapat dia tangani. Seharusnya dia belajar dari kesalahan ibunya. Dahulu kala, ketika Hawa tergoda oleh si Ular Tua dan mencuri milik Pencipta mereka. Menjadi bijak bestari dan mengetahui yang baik dan yang jahat. Menyingkap rahasia-rahasia yang tidak boleh ditemukan. Dan menerima upah pengusiran dan hukuman.
Seharusnya Cain tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Benar, dia sudah jatuh terlampau dalam. Tenggelam mendekati palung lautan. Sehingga hukuman saja tidak akan cukup untuk membayarnya.
Cain tahu. Dia mengerti. Meskipun hanya menjadi sebuah esensi, perlambangan sebuah kesalahan. Perwujudan dari dosa-dosa besar manusia yang nantinya akan dikenal sampai akhir jaman. Harus dihindari, tidak boleh didekati, dan senantiasa disangkal sampai mati. Cain harus menerima semuanya. Karena, ini adalah upah dari dosanya. Upah dari cintanya kepada Luluwa.
Dan upah dari kejahatannya selama mejadi Nephilim pertama di dunia.
“Sekarang kau telah mengerti anak-Ku? Butuh jutaan waktu untuk mengajarimu.”
Komentar
Posting Komentar