Gladiolus
Mengutip dari suatu tulisan;
"Ucapan selamat tinggal sama pentingnya dengan ungkapan cinta. Kenangan pernah dicintai dapat menjadi kekuatan menjalani hidup". Itu bukan kata-kata yang kubuat sendiri melainkan dari kutipan film K-Drama “Love in The Moonlight”.
Kutulislah sebuah pesan.
.
.
.
Untuk Teman, Sahabat, Bestie, Just friend in bussiness (special case), Partner in crime, Mitra belajar, dan sebutan lain yang kau-aku-kita pernah pergunakan.
Untuk Olipyu.
.
.
.
Aku pernah ngobrol ke diriku begini :“Hmm, hari ini aku sedih banget loh.. tapi rasanya kok kayak gak punya teman buat cerita. Teman sih ada, tapi kenapa aku gak bisa cerita ke mereka yaa, lihat nih kontak WA banyak, Followers IG juga ada”.
Terus aku yang lain menjawab : “ Iya aku tau, sebenarnya kamu bisa kok cerita ke mereka, kamunya aja yang gak mau terbuka. Kamu takut mereka hanya mendengar tanpa mengerti, atau cuma bilang semangat yaa’. Mungkin mereka gak akan benar-benar paham, karena mereka bukan kamu, tapi setidaknya mereka mencoba mengerti. Siapa tau kamu beruntung menemukan yang sefrekuensi. Lagian kamu sedih juga karena kamu ngizin perasaan itu ada. Kamu yang kontrol perasaanmu”
Maka aku akan bilang begini: "Kalau kau sedih, kapan saja kau bisa bilang dan luapkan. Gaperlu ditahan, jangan dilawan. Karena kepedihan hati juga punya hak untuk dirasa dan diakui keberadaannya."
Lalu aku yang lain menjawab: "Iya benar, aku ada untuk tempatmu berkeluh kesah. Aku mungkin tidak punya solusi dan tidak meringankan hatimu yang berbeban berat. Aku juga tidak pernah merasakan kehilangan sosok laki-laki yang sangat kucinta. Aku tidak punya kata-kata semangat yang ampuh untuk membuat sirna lara dan duka. Namun, aku setidaknya bisa memberikan segenap diriku untuk menjadi pendengar yang baik disaat kau hanya ingin berteriak dan mengucap ribuan penyesalan dan kerinduan"
.
.
.
Terima kasih juga sudah meneleponku tiap hari walau hanya sekedar menanyakan kabarku dan adik-adikku. Terima kasih udah mengajarkan pentingnya berserah pada sang Pencipta, kau selalu bilang “Bapak bisa hidup saat ini itu semua karena belas kasihan dan pertolongan Tuhan saja”. Ya aku sudah mendengar cerita masa mudamu yang buat aku geleng-geleng klo ternyata aku punya papa yang keren kayak di film-film action haha, aku juga ntah sudah berapa kali menangis ketika merasa itu adalah akhir perjumpaan kita.
Seperti dia yang mengajarkanmu pentingnya berserah pada Sang Pencipta. Aku yakin kau juga akan bertahan dan saling menguatkan.
Seperti dia yang selalu punya cerita menarik dalam hidupmu dan membuatmu bahagia. Aku yakin kau dapat melalui semuanya dan kembali ceria.
Seperti dia yang kini masih kau tangisi karena akhir perjumpaan kalian. Aku yakin suatu saat kau dapat mengunjunginya lagi di peristirahatan terakhirnya dengan kerelaan hati dan penguasaan diri.
.
.
.
Oh iya meskipun saat ini aku sudah bekerja, kau tak pernah meminta uangku, katamu “pokoknya jangan dipikirkan dulu buat ngirim-ngirim, masih cukupnya pensiunan bapak buat kami disini, klo ngirim harus bilang-bilang bapak. Tapi simpanlah uangmu buat bekalmu menikah dan hidupmu nanti karena bapak gak punya uang lg buat itu boru”. Hahaha lagi lagi tentang kebahagiaanku yang kau pikirkan. Satu lagi, terima kasih sudah romantis mengirimkan kata-kata penyemangat dan emoticon love di kala aku putus cinta saat itu. Haha aku hanya heran apa aku berubah drastiss ya dimasa itu hingga kau melakukan hal tersebut. Tapi terima kasih pa, dari saat itu aku yakin akan ada seorang pria di dunia ini yang selalu mencintaiku yaitu papa.
Katamu, dia selalu mencintaimu, menyayangimu dan selalu ada untukmu.
Katamu dia selalu memberikan kata-kata penyemangat dan emoticon love di kala kau patah hati ditinggal kekasih hati.
Katamu dia selalu memahamimu dan tidak pernah meminta apapun meskipun dia tahu kau sudah bekerja dan mampu memberinya sedikit hartamu untuk sekedar uang sakunya.
Jadi, tidak perlu khawatir, karena dia akan selalu mencintaimu, selalu menyemangatimu dan selalu memahamimu. Sekalipun dia tak menapak lagi dibumi dan tak kau lihat lagi di dunia ini.
Dia selalu ada dimanapun kau berada, melihatmu dari kejauhan semesta.
Tersenyum padamu dan menantikan masa depan menghampirimu.
.
.
.
Penutup.
Kita tidak akan pernah siap akan kematian. Kita tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan.
Aku mengenalmu sebagai wanita yang sangat tulus mencintainya dalam hidupmu. Karena dia pun memberikanmu Ketulusan yang sejati sebagai seorang ayah bagimu.
Aku mengenalmu sebagai seorang pribadi yang tenang dan penuh kesabaran. Kau baik pada semua orang dan tak enggan memberi pertolongan. Karena dia yang kau kagumi pun mengajarkan kau Kemurahan Hati dan Kasih Sayang.
Kenangan-kenanganmu tentangnya akan selalu ada. Seperti Gladiol yang meskipun di potong dari batangnya tetap mekar dengan indah. Demikianlah kau juga kiranya akan tetap hidup dan tak menyerah.
Apapun juga menimpamu, Tuhan menjagamu
Naungan kasihNya pelindungmu
Waktu tenang atau tegang, Ia menjagamu
Bila menanggung beban berat, atau Masa depanmu pun kelam pekat
Tuhan menjagamu....
Fin.
________________________________
Cr:
Lip, kalau aku bilang "semangat yaa" "Rindu kali loh aku samamu, yang sabar ya" "Sayangloh aku samamu, jangan sedih ya" Dsb, pasti kau akan langsung menerka bahwa kau bukan satu-satunya yang kukirim kalimat begitu.
Tapi kali ini biarlah aku memberikanmu tulisan pertamaku di tahun 2023 ini untuk jadi sekedar hiburanmu, agar kau tak merasa sendirian.
.
.
"Siapa lagi yang akan telepon aku des?"
Ada adek angel, ada wira, ada mamak. Ada kami teman-temanmu. Kalau perlu kutambahkan 'menelepon olip' di alarm harianku.
.
.
"Des, siapa yang liat aku wisuda nanti?"
Banyak orang-orang yang sayang samamu akan melihatmu di hari bahagiamu nanti. Dia juga pasti lihat dari surga, bersama dengan Dia yang sering kau ajak curhat dan bercerita.
.
.
"Gak bisa kulihat lagi dia des."
Tetapi dia akan selalu melihatmu lip, dan kau bisa melihatnya juga di dalam hatimu, di dalam kepingan-kepingan memorimu dan di kedalaman relung jiwamu.
Komentar
Posting Komentar