Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Relikui Suci

Hanya sebatas fiksi di pikiran orang-orang awam. Digubah dan dilupakan. Berubah dari nyata menjadi maya. Mengerosi makna anugerah agar dapat menyembuhkan sampar dan memar. Menggantinya dengan ilmu-ilmu kedokteran penuh kefasikan. Memilih yang dibiarkan mati dan memeras dari  yang diselamatkan. Berkilah ketika tanpa sengaja menikam dan menolak ketika disalahkan. Padahal, hanya perlu menyapukan lembaran saputangan dan menyambut datangnya kebugaran. Oh, kawan. Mengapa kau demikian? Padahal, dahulu kalian tak perlu tembak peluru hanya untuk melindungi sebuah jiwa dan mengorbankan ribuan manusia. Ketika kau rindu dan ingin menyisipkan temu, maka carilah aku. Bongkahan batu yang diikat seutas tali. Terlingkar di antara tulang-tulang orang suci di pemakaman Romawi. Ambillah dan jemputlah yang ingin kau bangkitkan jiwanya. Kenakan pada tulang lehernya dan nantikan dagingnya akan tumbuh seperti sedia kala. Lilu rasanya jika kau berbicara keabadian. Menghabiskan waktu dan tenaga...

Namanya Mimpi.

Namanya Mimpi. Ia lahir dari benih-benih cinta dan perkawinan antara ekspektasi dan realisasi. Sebuah harmonisasi dari sebuah ikatan janji. Ayahnya adalah Suka. Dan ibunya adalah Cita. Ia memiliki segudang keinginan sejak dalam kandungan. Namun, ia juga memiliki ribuan kekhawatiran yang menghantui setiap malam. Mimpi senang berangan-angan untuk menjadi terkenal. Ia juga bercita-cita menjadi salah satu pujangga yang di idam-idamkan. Mimpi adalah anak yang penurut jika dilihat dari depan. Namun, ia adalah tipe pembangkang jika diperhatikan dari belakang. Mimpi selalu berkoar-koar tentang harta, tahta, dan cinta. Namun, ia sendiri enggan merajut benang usaha.  Suatu hari, Mimpi tertampar keras oleh realita. Ia terjatuh ke dasar jurang dan merasakan  patah hati yang sulit menghilang. Mimpi menunduk malu dan menyesali segala onar laku. Mimpi pun berjanji dalam hati untuk berubah dan mawas diri. Mimpi berangsur-angsur dewasa. Mengikis sedikit demi sedikit kesombongan masa re...

The Chronicles Of The First Nephilim

Suara-suara berisik yang tercipta dari pergesekan logam dengan logam terdengar sangat nyaring. Percikan-percikan bunga api dari tungku pembakaran terkadang mengenai meja kayu kecil yang berdiri agak miring disampingnya. Salah satu kakinya bengkok karena keropos parah, namun tidak kunjung diperbaiki dan hanya ditambal oleh kerikil-kerikil kecil yang kebetulan ditemukan disekitar tempat itu. Hal ini cukup aneh, mengingat pemilik rumah itu adalah seorang penempa senjata terbaik disepenjuru kota. Tentunya, untuk memperbaiki sebuah meja kayu tidak akan merepotkannya. Langkah-langkah kaki terburu-buru mendekat. Suara kenop pintu menghentikan koor melodi berisik di ruangan itu. Sang empunya menoleh dengan kejengkelan luar biasa. Menyadari presensi dari tamu yang dia tunggu-tunggu sejak pagi. “Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu Julius. Wanita itu hanya memanfaatkanmu!” nada tinggi khas Anthony menuduhnya. Julius hanya menatap jengkel temannya sekaligus tangan kanannya tersebut. Ma...